Pergeseran Pola Konsumsi Sagu di Maluku Utara

Provinsi Maluku Utara, selain dikenal dunia karena rempah-rempah dan juga pangan lokal yakni sagu (dari pohon sagu). Jauh sebelum masyarakat lokal mengonsumsi beras, sagu menjadi makanan pokok turun temurun hingga saat ini.
Bagi masyarakat Malut sagu dinilai sebagai makanan yang kaya akan gizi tinggi. Tepung sagu memiliki kandungan karbohidrat hingga 84,7 persen dan serat pangan antara 3,69 persen hingga 5,96 persen. Sagu mengandung pati resisten, polisakarida dan karbohidrat rantai pendek yang sangat berguna bagi kesehatan.
Namun ironisnya, generasi Maluku Utara sekarang ini malah jauh dari mengonsumsi makanan dari bahan dasar sagu ( sagu lempeng dan papeda).
Kebiasaan mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok di Maluku Utara pelan-pelan memang sudah mulai ditinggalkan.
Masyarakat, saat ini lebih banyak memilih mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok harian lantaran murah dan mudah didapat. Hal ini, bisa dilihat pada tingkat konsumsi beras penduduk di Kota Tidore dan Malut pada umumnya.
Tingkat konsumsi beras di Kota Tidore dan Malut umumnya, bahkan sudah mencapai 88 kilogram per orang per tahun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran pola konsumsi makanan pokok dari sagu ke nasi.
Faktor tersebut berhubungan dengan persoalan ekonomi, sosial, dan budaya. Saat ini masyarakat Malut tak terkecuali Tidore telah menempatkan nasi sebagai jenis pangan yang memiliki tingkat status sosial tinggi dan wajib dikonsumsi setiap hari.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar