Reinkarnasi Semangat Sultan Nuku: Saat ‘Kora-Kora’ Digital Pemuda Membelah Samudra Ketertinggalan

Saat ini, kita menyaksikan lahirnya para perintis teknologi yang membangun sistem kedaulatan data dari desa-desa. Kita melihat aktivis lingkungan yang menggunakan kecerdasan buatan untuk memetakan kerusakan hutan di pedalaman Papua, wilayah yang dahulu juga menjadi basis kekuatan Nuku.
Ini adalah bentuk kedaulatan modern; sebuah perjuangan yang tidak lagi mengandalkan fisik, melainkan ketajaman visi dan penguasaan atas informasi. Pemuda-pemuda ini sadar bahwa di abad ke-21, mereka yang menguasai data adalah mereka yang memegang kemudi sejarah.
Kepemimpinan Politik dan Diplomasi yang Tangkas
Dalam ranah kepemimpinan, Sultan Nuku memberikan pelajaran berharga tentang "Diplomasi Kelincahan". Beliau adalah penguasa yang mampu berpindah-pindah markas, membangun basis kekuatan dari pulau ke pulau.
Dan merangkul para pemimpin lokal tanpa sedikit pun menghilangkan identitas atau harga diri mereka. Beliau tahu kapan harus bernegosiasi dan kapan harus menghantam keras.
Pemuda Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan politik yang serupa. Alih-alih terjebak dalam sekat-sekat ideologi yang memecah belah, muncul kesadaran kolektif di kalangan pemimpin muda untuk mengadopsi gaya kepemimpinan Nuku: kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif.
Mereka membawa aspirasi lokal ke meja perundingan nasional dan internasional, memastikan bahwa suara dari pesisir dan pegunungan memiliki bobot yang sama dengan suara dari pusat kekuasaan.
Ini adalah manifestasi dari "Generasi Emas" yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kelenturan taktis dalam memperjuangkan kepentingan bangsa di kancah global.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar