Reinkarnasi Semangat Sultan Nuku: Saat ‘Kora-Kora’ Digital Pemuda Membelah Samudra Ketertinggalan

M. Ghazali Faraman

Oleh: M. Ghazali Faraman
(Mahasiswa Hukum Unkhair Sekaligus Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Maidi)

Angin laut di perairan Maluku Utara hari ini membawa aroma yang berbeda. Bukan sekadar wangi cengkih yang dahulu memicu perlombaan samudera, melainkan energi pembaharuan yang ditiupkan oleh generasi muda Indonesia.

Di tengah arus modernisasi yang menderu, sebuah gerakan intelektual dan sosial mulai tumbuh dengan mengambil akar pada salah satu strategi perjuangan paling brilian dalam sejarah Nusantara: taktik diplomasi, kemandirian, dan ketangguhan Sultan Nuku dari Tidore.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 4 Februari 2026

Sultan Nuku, yang menyandang gelar Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad Muhammad el Mab’us Amiruddin Syah Bunda Tanah Kasih, bukan sekadar nama dalam buku teks sejarah. Beliau adalah simbol dari apa yang kita sebut hari ini sebagai "kemampuan adaptif" dan "ketahanan strategis".

Di masa lalu, Nuku mampu menyatukan kemajemukan etnis dari Maluku hingga Papua untuk berdiri tegak melawan monopoli asing.

Kini, pemuda Indonesia sedang menerjemahkan semangat itu untuk menghadapi penjajahan bentuk baru: ketergantungan teknologi, hegemoni informasi, dan ketimpangan ekonomi global.

Strategi Gerilya Samudra di Era Digital

Jika dahulu Sultan Nuku menggunakan perahu-perahu gesit untuk membelah ombak demi mengelabui armada besar penjajah, pemuda masa kini menggunakan kecakapan digital sebagai "Kora-Kora Modern" mereka.

Di tangan para talenta muda, inovasi tidak lagi bersifat sentralistik. Semangat Nuku yang bergerak dari pinggiran dari Tidore yang kecil namun tangguh, menginspirasi anak muda di seluruh pelosok negeri untuk membuktikan bahwa kemajuan tidak harus selalu bermula dari kota besar.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...