Refleksi Nisfu Sya’ban di Tengah Kebisingan Digital

Menemukan “Tarekat Sosial” HMI

Muhiddin Maulud

Teori gerakan Islam kontemporer, seperti yang diulas oleh Asef Bayat tentang "post-Islamisme", menunjukkan pergeseran dari gerakan yang hanya berfokus pada negara/politik formal menuju gerakan yang menekankan kesalehan sosial dan etika publik.

HMI sebagai Tarekat Sosial sejalan dengan ini. Ia menjadikan lima kualitas Insan Cita (Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Bernafaskan Islam, dan Bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur) sebagai maqam-maqam (tingkatan) spiritual yang harus dicapai melalui laku sosial. Bukankah begitu?

Di tengah distraksi duniawi, Nisfu Sya'ban hadir sebagai alarm agar kita menepi sejenak dari jalan tol aktivisme yang bising. Ia mengingatkan kader HMI bahwa sehebat apapun strategi taktis dan wacana intelektual, jika hati penuh permusuhan dan lupa pada Sang Tujuan Akhir, maka gerakan itu kosong.

Menjadikan HMI sebagai Tarekat Sosial berarti menyadari bahwa setiap keringat yang menetes dalam perjuangan organisasi haruslah bernilai ibadah.

Nisfu Sya'ban adalah momen untuk mengisi ulang energi spiritual itu, memaafkan sesama kader (Suanggi), membersihkan niat, agar di bulan Ramadan nanti, dan dalam perjuangan selanjutnya, kita tidak hanya menjadi aktivis yang sibuk, tetapi juga hamba yang sadar.

Mari gunakan malam Nisfu Sya'ban ini bukan hanya untuk berdoa bagi diri sendiri, tetapi juga untuk mendoakan soliditas himpunan, agar ia tetap menjadi mata air jernih di tengah gersangnya peradaban digital.

Yakin Usaha Sampai(*)

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...