Refleksi Nisfu Sya’ban di Tengah Kebisingan Digital

Menemukan “Tarekat Sosial” HMI

Muhiddin Maulud

Hadis ini menarik. Pengecualian pengampunan bagi mereka yang "bermusuhan" (musyahn) memberikan dimensi sosial yang kuat pada malam ini.

Nisfu Sya'ban bukan hanya soal ritual individu di atas sajadah, tetapi juga soal membereskan hubungan horizontal antarmanusia (hablun minannas).

Bagi HMI, ini adalah momen muhasabah (introspeksi) organisasi. Apakah dinamika komisariat, korkom, hingga pengurus besar masih dalam koridor fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), atau sudah terjebak dalam musyahn - permusuhan internal, sikut-sikutan politik, dan ego sektoral?

HMI Sebagai Tarekat Sosial

Dalam tradisi tasawuf, tarekat adalah jalan atau metode spesifik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Biasanya, tarekat diasosiasikan dengan zikir-zikir khusus di bawah bimbingan seorang mursyid.

Namun, di era modern, kita perlu memperluas makna ini. Cendekiawan Muslim seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang pemikirannya sangat mewarnai HMI, menekankan Islam yang substansial, yang membumi dalam konteks keindonesiaan dan kemodernan.

HMI dapat dipahami sebagai sebuah "Tarekat Sosial". Artinya, organisasi ini adalah jalan (tarekat) bagi kadernya untuk mencapai keridhaan Allah, bukan melalui isolasi diri di puncak gunung, melainkan melalui keterlibatan aktif menyelesaikan masalah umat dan bangsa.

Setiap diskusi di komisariat adalah bentuk tafakur. Setiap aksi advokasi rakyat adalah bentuk jihad sosial. Setiap proses perkaderan (LK) adalah riyadhah (latihan) menempa jiwa. Dan mungkin sedikit yang menjalaninya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...