Refleksi Nisfu Sya’ban di Tengah Kebisingan Digital

Menemukan “Tarekat Sosial” HMI

Muhiddin Maulud

Distraksi dan Kehilangan Jalan

Teori gerakan sosial modern sering menyoroti bagaimana aktivisme di era digital menghadapi tantangan fragmentasi perhatian. Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut era ini sebagai "likuid modernitas", di mana segala sesuatu cair, cepat berubah, dan sulit dipegang.

Bagi aktivis Islam, distraksi ini berbahaya. Ia bisa menggeser orientasi gerakan dari Lillahi Ta’ala (karena Allah) menjadi sekadar mengejar eksistensi digital atau kekuasaan pragmatis. Ketika gerakan kehilangan tambatan spiritualnya, ia menjadi bising tanpa makna.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan dini tentang pentingnya "jeda" di tengah kesibukan untuk menemukan kembali ketenangan:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

Ayat ini adalah antitesis dari era distraksi. Ketenangan (tuma'ninah) tidak ditemukan dalam scrolling layar tanpa henti, melainkan dalam dzikrullah (mengingat Allah).

Nisfu Sya'ban, Sebuah Proposal Muhasabah

Nisfu Sya'ban secara historis dan kultural dipahami sebagai malam di mana catatan amal diangkat dan rahmat Allah turun melimpah. Dalam sebuah hadis yang dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah menilik kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali musyrik (orang yang menyekutukan Allah) dan musyahn (orang yang bermusuhan)." (HR. Ibnu Majah, dari Mu'adz bin Jabal).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...