Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

Oleh: Moh. Sila Basuki Widodo
(Pemerhati Sosial Ekonomi Warga)

Percaturan politik dan ekonomi global hari ini hampir pasti didominasi oleh negara - negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, beserta jejaring sekutu dan kepentingannya. Di balik negara - negara tersebut, hadir pula aktor non - negara dengan daya tawar finansial raksasa —lembaga keuangan global, bank sentral, dan segelintir konglomerat dunia — yang oleh banyak pengamat disebut sebagai global elite. Keberadaan mereka sering kali samar, sulit disentuh, namun sangat menentukan arah kebijakan ekonomi, politik, bahkan hukum dunia.

Dalam situasi global yang kian kompleks, ditambah dengan kecanggihan Artificial Intelligence (AI) yang nyaris sempurna, pengambilan keputusan strategis dunia semakin terpusat. Kekuasaan mengeras, regulasi mengabdi pada pemilik modal, dan hukum cenderung berpihak pada yang kuat.

Pelan namun pasti, dunia seolah kembali pada “hukum rimba”: yang kuat makin berani, yang lemah makin terpinggirkan. Fakta ini dengan mudah kita saksikan setiap hari —melalui berita dan media sosial di genggaman tangan — bahwa jurang kaya dan miskin semakin menganga.

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Al-Qur’an telah lama menggambarkan pola kekuasaan tiranik yang menindas rakyatnya, sebagaimana Fir’aun, Namrud, dan Syaddad. Fir’aun, misalnya, memeras tenaga rakyat tanpa memperhitungkan hak dan kesejahteraan mereka.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang - wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah; ia menindas segolongan dari mereka…” (QS. Al-Qashash: 4)

Hari ini, meski format dan wajahnya berbeda, pola itu terulang kembali. Pada skala global maupun nasional, kekuasaan yang bertumpu pada uang dan pengaruh kerap meminggirkan rakyat kecil. Dengan modal besar, kehendak penguasa dapat dipaksakan melalui instrumen negara —bahkan aparat atau aktor nonformal — demi melanggengkan kepentingannya. Lalu, di tengah situasi semacam ini, apa pilihan rakyat : melawan, pasrah, atau bersiasat ?

Sejarah menunjukkan bahwa perlawanan frontal terhadap kekuatan raksasa sering kali berakhir tragis. Namun bersiasat dengan cerdas adalah jalan lain yang lebih realistis. Dalam konteks Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global, Indonesia pernah memiliki pengalaman berharga saat krisis moneter 1998. Ketika badai spekulasi global — yang salah satunya dipicu oleh manuver George Soros —meluluhlantakkan ekonomi nasional, nilai rupiah terpuruk, perusahaan besar kolaps, dan konglomerasi runtuh.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...