Refleksi Fenomena Bencana Kepulauan Halmahera
Quo Vadis DAS MU?

Data Peta Mangrove Nasional (PMN) tahun 2024 menyebutkan Malut memiliki eksisting mangrove seluas 47.783 ha dan potensi habitat mangrove seluas 850 ha. Jika mangrove tersebut rusak, maka banjir rob pun terjadi.
Asa Perimba
Menutup tulisan ini, penulis sekadar menyampaikan refleksi/‘kaca benggala’, agar parapihak (stakeholder) di bumi MKR ini mawas diri. Apa yang harus dikerjakan untuk mencegah musibah?
Agar kekhawatiran sesepuh Kesultanan Tidore, Hi. Farouk Amin, tidak terjadi: “manusia sone kubur tomahale, hale sone kubur kabe? Manusia mati kubur di tanah, tanah mati kubur di mana?
Banjir dan bencana yang melanda Kepulauan Halmahera sejatinya tengah mematikan ‘tanah air’ kita, paling tidak ‘melukai’ Ibu Pertiwi. Luka itu berwujud lahan kritis, air cemar, tanah tandus, bumi gersang, sampah tak terkendali hingga ekosistem terancam.
Tentunya, kita tak mau senjakala Kepulauan Halmahera terjadi? Kita mau, DAS MU pulih dan bertahan! Bismillah! (*)



Komentar