Refleksi Fenomena Bencana Kepulauan Halmahera

Quo Vadis DAS MU?

Muh. Arba’in Mahmud

Potensi banjir yang mengancam DAS Kepulauan Malut adalah banjir limpasan, banjir genangan dan banjir rob. Banjir limpasan (surface run off) adalah air hujan yang mengalir di atas permukaan tanah karena tanah sudah jenuh atau permukaannya kedap air (seperti beton/aspal).

Air tersebut tidak dapat meresap dan mengalir ke saluran drainase, sungai, danau, atau laut, seringkali membawa polutan dan menyebabkan banjir serta erosi saat volumenya besar.

Selanjutnya, banjir genangan adalah kondisi tergenangnya air di permukaan daratan yang seharusnya kering akibat curah hujan tinggi, di mana kecepatan jatuhnya air melebihi kapasitas sistem drainase.

Menurut data BPDAS Ake Malamo (2025), tingkat kerawanan banjir limpasan di Malut terbagi menjadi 3 (tiga), yakni tinggi (47,59%), ekstrim (33,64%) dan normal (18,77%).

Selanjutnya, tingkat kerawanan banjir genangan di Malut pun terbagi menjadi 3 (tiga), yakni agak rawan (74%), rawan (25,5%) dan sangat rawan (0,5%). Menurut data BNPB (2025), sepanjang tahun 2024, banjir mendominasi bencana alam di Malut, yakni 25 kejadian dari 32 bencana yang terjadi.

Selain banjir limpasan dan banjir genangan, DAS Kepulauan Malut rentan terkena banjir rob, yakni genangan air di daratan pesisir disebabkan oleh meluapnya air laut saat pasang tertinggi.

Hal ini seringkali diperparah oleh penurunan muka tanah (land sub sidence), perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem pesisir (DAS Hilir), seperti mangrove.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...