Dari Membaca Teks ke Membaca Diri

Namun, semua itu menjadi lebih bernilai ketika ditempatkan dalam kerangka pemaknaan. Struktur bahasa tidak berdiri di ruang hampa, melainkan mengabdi pada upaya manusia memahami dirinya dan dunia.
Di tengah tantangan zaman yang ditandai krisis identitas remaja, kecemasan sosial, dan banjir informasi, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran strategis. Ia dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk berpikir, merasakan, dan menafsirkan hidupnya melalui bahasa.
Sudah saatnya pembelajaran Bahasa Indonesia bergerak dari sekadar membaca teks menuju membaca diri. Dari sekadar memahami kata menuju memahami makna.
Dari sekadar menjawab soal menuju menyusun kesadaran. Di sanalah Bahasa Indonesia menemukan kembali wajahnya, sebagai pelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. (*)




Komentar