Dari Membaca Teks ke Membaca Diri

Irfan Efendi 

Pembelajaran masih didominasi pendekatan tekstual-kognitif, sementara dimensi reflektif dan humanistik cenderung terpinggirkan. Teks diperlakukan sebagai objek analisis, bukan sebagai pengalaman.

Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, manusia dipahami sebagai subjek yang membentuk makna hidupnya melalui kesadaran dan pilihan.

Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa manusia tidak dilahirkan dengan esensi yang sudah jadi; manusialah yang memberi makna pada keberadaannya melalui tindakan dan refleksi. Artinya, manusia bukan sekadar penerima makna, melainkan pencipta makna.

Jika pandangan ini ditarik ke ruang kelas, maka siswa seharusnya diposisikan sebagai subjek pembelajar yang aktif memaknai teks, bukan sekadar pencari jawaban yang benar.

Membaca cerpen tidak berhenti pada menemukan konflik dan amanat, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan reflektif: bagian mana yang paling dekat dengan pengalaman saya? Nilai apa yang saya pertanyakan? Sikap apa yang saya setujui atau tolak?

Pendekatan reflektif dalam pembelajaran menegaskan bahwa belajar bukan sekadar proses menerima informasi, melainkan berpikir kembali atas pengalaman untuk menemukan makna.

Dalam konteks Bahasa Indonesia, membaca bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga proses batin. Bahasa menjadi jembatan antara teks dan kehidupan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...