Belajar dari Kearifan Lokal Ternate: Membangun Kesiapsiagaan Siswa di Pulau Vulkanik Kecil

Sejalan dengan pentingnya integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran kebencanaan tersebut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kebencanaan berbasis kearifan lokal yang diterapkan di sekolah mampu meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana alam (Sahudra et al., 2025; Astuti & Anandita, 2025; Masruroh et al., 2023; Mustofa & Handini, 2020).
Pembelajaran yang bersumber dari pengalaman dan budaya lokal menjadikan siswa lebih mudah memahami risiko bencana di lingkungannya. Dengan demikian, penerapan pembelajaran kebencanaan berbasis kearifan lokal Ternate akan meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan siswa secara signifikan, terutama pada sekolah-sekolah yang berada di kawasan rawan bencana Gunungapi Gamalama.
Dalam rangka mengimplementasikan pembelajaran kebencanaan berbasis kearifan lokal di sekolah, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi dan memahami bentuk-bentuk kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Ternate.
Menurut Amin et al. (2024), terdapat beberapa bentuk kearifan lokal masyarakat Ternate yang berfungsi sebagai strategi mitigasi bencana letusan Gunungapi Gamalama, yaitu mitigasi berbasis pengetahuan lokal dan mitigasi berbasis ritual. Mitigasi berbasis ritual diwujudkan melalui praktik ritual kololi kie, fere kie, dan doa kie.
Sementara itu, mitigasi berbasis pengetahuan lokal mencakup tiga fase, yakni fase pra-letusan, fase tanggap darurat, dan fase pasca-letusan. Sebagai pengetahuan lokal, setiap daerah tentu memiliki karakteristik dan kearifan lokal yang berbeda dalam memitigasi bencana Gunungapi, integrasi kearifan lokal Ternate ke dalam pembelajaran kebencanaan di sekolah menjadi strategi yang relevan dan kontekstual untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa.
Urgensi penerapan pembelajaran kebencanaan berbasis kearifan lokal di sekolah-sekolah Kota Ternate. Selain merupakan pulau vulkanik kecil yang rentan terhadap bencana letusan Gunungapi, Kota Ternate juga termasuk salah satu dari 170 kabupaten/kota yang menjadi sasaran penurunan Indeks Risiko Bencana (IRB) sebagaimana ditetapkan pemerintah melalui BNPB dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (RENAS-PB) Tahun 2025–2029 (Peraturan BNPB No. 1 Tahun 2025).
Meskipun Kota Ternate memiliki IRB multi-bahaya bencana kategori sedang, risiko bencana letusan Gunungapi Gamalama berada pada kategori tinggi (BNPB, 2023).
Tingginya IRB tersebut disebabkan oleh rendahnya tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, peningkatan kesiapsiagaan siswa melalui pembelajaran kebencanaan berbasis kearifan lokal di sekolah diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap penurunan IRB Kota Ternate.


Komentar