Belajar dari Kearifan Lokal Ternate: Membangun Kesiapsiagaan Siswa di Pulau Vulkanik Kecil

IMG 20260123 WA0032

Oleh: Syahril Lukman

(Dosen Prodi Pendidikan Geografi, ISDIK Kie Raha Maluku Utara)

Kota Ternate merupakan kota kepulauan, salah satunya adalah Pulau Ternate, sebuah pulau kecil dengan Gunungapi aktif hingga saat ini, yaitu Gunungapi Gamalama. Pulau Ternate memiliki luas daratan 101,67 Km2, dengan jumlah penduduk Kota Ternate 210.836 jiwa, jumlah penduduk tersebut 96 % mendiami Pulau Ternate (BPS Kota Ternate, 2025).

Luas wilayahnya yang kecil dan jumlah penduduk yang padat menyebabkan masyarakat yang mendiami pulau vulkanik kecil ini sangat rentan dan berisiko tinggi terhadap bahaya letusan Gunungapi Gamalama (Hidayat et al., 2020).

Letusan Gunungapi Gamalama menimbulkan bahaya secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder). Bahaya secara langsung berupa lontaran material lepas berukuran abu hingga bongkah, aliran lava serta aliran piroklastik, sedangkan bahaya tidak langsung yaitu lahar hujan dan tsunami vulkanik (Marfai et al., 2019).

Salah satu sektor yang terkena dampak bahaya secara langsung mupun tidak langsung adalah sektor pendidikan formal. Sekolah-sekolah yang berada pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunungapi Gamalama tentunya memiliki kerentanan tinggi, apalagi pada siswa SMP termasuk kelompok rentan terhadap bencana, sehingga perlu ditingkatkan kemampuan kesiapsiagaannya.

Kesiapsiagaan bencana disebut sebagai tindakan yang diambil sebelum peristiwa bencana untuk membantu mengurangi korban jiwa dan kerugian harta benda. Menurut Carter (1992), kesiapsiagaan merupakan pengetahuan dan kapasitas yang dikembangkan oleh pemerintah, lembaga profesional, masyarakat, serta individu agar mampu mengantisipasi, merespons secara cepat, dan pulih dari dampak bencana yang telah maupun yang berpotensi terjadi. Maka, pengetahuan kebencanaan siswa perlu ditingkatkan, karena semakin baik tingkat pengetahuan siswa terhadap bencana alam, semakin baik pula tingkat kesiapsiagaannya (Lukman et al., 2021).

Penyebab tingginya jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat dampak bencana adalah kurangnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Di wilayah yang memiliki tingkat bahaya dan kerentanan tinggi, dampak bencana dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki tingkat kesiapsiagaan yang tinggi (Fazeli et al., 2024).

Namun, Berdasarkan hasil penelitian Lukman (2021), Lukman et al. (2021), Lukman & La Masinu (2020), dari beberapa sekolah sebelum dilakukan intervensi melalui pembelajaran menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan siswa belum mencapai pada kategori “sangat siap” terhadap bencana letusan Gunungapi Gamalama.

Pengetahuan siswa tentang kebencanaan masih sangat bergantung pada pengalaman langsung saat bencana terjadi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi melalui pembelajaran kebencanaan di sekolah guna meningkatkan kesiapsiagaan siswa, sehingga mereka lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya letusan Gunungapi. Tanpa upaya peningkatan kesiapsiagaan tersebut, risiko yang dihadapi siswa akan semakin mengkhawatirkan apabila bencana terjadi.

Pembelajaran kebencanaan akan lebih efektif apabila dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa, salah satunya melalui pemanfaatan kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan formulasi dari keseluruhan bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan (Marfai, 2022).

Dalam konteks pengurangan resiko bencana, kearifan lokal dapat membantu mengurangi jumlah korban jiwa seperti kearifan lokal Smong di Pulau Simeulue-Aceh (Ramli et al., 2024), serta dapat meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam (Hanif et al., 2022). Berdasarkan temuan tersebut, maka perlunya mengintegrasikan kearifan lokal dalam pemebelajaran kembencanaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi potensi letusan Gunungapi Gamalama.

Baca halaman selanjutnya...

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...