Membangkitkan Melek Ekologi untuk Menyelamatkan Mangrove

Kerusakan akan memberikan dampak serius bagi kehidupan manusia maupun biota. Lantas kenapa dengan dalih keuntungan ekonomi yang serekah, ekositem rela dihancurkan.
Hal ini senada dengan Lukas Awi Tristanto, Panggilan Melestarikan Alam Ciptaan (2015) yang menyebutkan bahwa manusia sekarang bertekad mengeruk alam seisinya tanpa mengindahkan kelestariannya pada masa depan.
Padahal manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa alam. Selain disebut makhluk sosial, manusia juga merupakan makhluk ekologis karena tak pernah bisa hidup sendiri. Nyatanya, manusia telah mengeksploitasi alam atas nama kesejahteraan, yang mengakibatkan kerusakan.
Olehnya itu, untuk menyelamatkan alam dari kerusakan, tak ada yang lain terkecuali membangkitkan melek ekologi pada manusia.
Maka dari itu, marilah kita jadikan melek ekologi sebagai bagian dari diri kita, sehingga kita dapat menyelamatkan alam dari kerusakan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Padahal yang perlu diketahukita bahwa, seharusnya yang berperan aktif dalam menjaga lingkungan adalah pemerintah.
Namun, yang terjadi malah berbeda. Untuk itu, perlu adanya kolaborasi antara pihak guna memulihkan maupun menjaga hutan mangrove di provinsi kepulauan ini.
Sebab, dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga mangrove, kita dapat mengubah perilaku dan pola pikir pemerintah, korporasi maupun masyarakat untuk tidak terus merusak alam. (*)



Komentar