“Timang-timang Tambangku Sayang”: Mengancam Pendidikan Generasi Muda

Arlan Maulana Putra

Anak-anak yang seharusnya berada di sekolah, dipaksa untuk bekerja di tambang demi membantu keluarga mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di Malut, selain disebut-sebut telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan memporakporandakan kehidupan masyarakat.

Bahkan kehadiran pertambangan membuat anak-anak di lingkar tambang, pun kesulitan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, yang dapat menyebabkan penurunan kualitas pendidikan.

Dilansir dari Cermat.co.id (31/10/2024) menyebutkan, perihal masalah ini, terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah. Di sana, mulai menunjukkan gejala penurunan minat sekolah generasi mudah sejak beberapa dekade terakhir.

Ini imbas dari kehadiran industri pertambangan yang semakin kompleks. Persoalan lain yang cukup nyata adalah tergiurnya anak muda bekerja sebagai buruh tambang.

Animo anak muda bekerja di tambang makin tidak terkendali. Sehingga dapat dilihat bahwa minat melanjutkan pendidikan mulai menurun.

Hal ini bisa kita tengok Badan Pusat Statistik (BPS) Malut tahun 2024. Jumlah penduduk usia kerja (PUK) Halmahera Tengah mencapai 43.032 jiwa dengan persentase 70 persen merupakan angkatan kerja. Dari jumlah ini, 32.074 adalah pekerja tambang yang berusia 15 tahun ke atas.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...