Pilkada DPRD: Dilematis antara Efisiensi dan Legitimasi

Ardi Turege

Dilematis Paling Mendalam Antara Demokrasi Langsung dan Perwakilan

Mengulas Kembali, Perdebatan mengenai Pilkada oleh DPRD pada dasarnya mencerminkan dilema klasik antara demokrasi langsung dan demokrasi perwakilan.

Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, dilema ini semakin kompleks karena dihadapkan pada keterbatasan sumber daya, kualitas partai politik yang belum ideal, serta rendahnya literasi politik di sebagian masyarakat.

Mengulas teori dan praktiknya; Demokrasi langsung menekankan partisipasi rakyat secara luas, tetapi sering kali mahal dan kompleks. Sebaliknya, demokrasi perwakilan lebih efisien, namun berisiko menciptakan jarak antara wakil rakyat dan konstituennya.

Selain itu, Pilkada langsung sering kali memicu konflik sosial. Perbedaan pilihan politik dapat memecah masyarakat, bahkan sudara sekandung, sampai dengan memicu kekerasan.

Dengan Pilkada melalui DPRD, potensi konflik horizontal dinilai dapat ditekan karena proses pemilihan berlangsung di ruang parlemen, bukan di tengah masyarakat luas.

Tapi perlu di ingat!!

Teori good governance menekankan bahwa demokrasi yang sehat harus menyeimbangkan efisiensi, akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi.

Oleh karena itu, mengganti Pilkada langsung dengan Pilkada oleh DPRD tanpa memperbaiki tata kelola politik justru berpotensi menurunkan kualitas demokrasi lokal.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar

Loading...