“Kritik atas Ketidak Profesional Penyelenggaraan North Maluku Dance Competition 2025”

Ketika Tari Kehilangan Martabatnya

Fitriyani Atid

Kebudayaan direduksi menjadi kostum panggung, kehilangan ruh dan martabatnya sebagai warisan hidup masyarakat Maluku Utara.

Dalam konteks ini, North Maluku Dance Competition 2025 tidak hanya gagal sebagai kompetisi yang adil, tetapi juga gagal sebagai ruang edukasi budaya.

Alih-alih memperkuat identitas lokal, kegiatan ini justru berpotensi melanggengkan kesalahpahaman terhadap budaya sendiri.

Ini adalah bentuk kekerasan simbolik terhadap pelaku seni dan masyarakat adat, karena tradisi mereka dinilai oleh ketidaktahuan dan kepentingan.

Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menafikan kerja keras para penari dan komunitas seni yang telah berpartisipasi dengan penuh dedikasi.

Justru sebaliknya, kritik ini lahir sebagai pembelaan terhadap martabat pelaku seni yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi menjaga hidupnya kebudayaan.

Pemerintah daerah, panitia, dan pihak terkait harus menyadari bahwa pengelolaan kegiatan seni-budaya tidak bisa dilakukan secara serampangan dan pragmatis.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...