Gastronomi, Rempah, dan Jalan Baru Pembangunan Berkelanjutan Kota Ternate

M. Syafei Baay

Papeda instan, kreasi kuliner berbasis rempah, hingga pemanfaatan rempah untuk kesehatan dan kecantikan, menunjukkan bahwa bahan pangan lokal memiliki spektrum nilai yang luas.

Namun, di balik geliat kreativitas itu, ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian, yakni bagaimana sisa dari aktivitas gastronomi ini dikelola.

Setiap kegiatan kuliner, sekecil apa pun, hampir selalu menghasilkan sisa: potongan sayur, ampas rempah, sisa makanan, hingga minyak jelantah.

Jika tidak dikelola dengan baik, sisa ini akan berakhir di tempat pembuangan akhir dan menambah beban lingkungan.

Namun, jika didekati dengan perspektif gastronomi berkelanjutan, sisa tersebut justru dapat dipandang sebagai sumber daya baru.

Dalam pendekatan ini, limbah makanan bukan akhir dari sebuah proses, melainkan bagian dari siklus yang berkelanjutan. Sisa sayur dan buah dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian kota dan pekarangan rumah tangga.

Ampas rempah dan bahan dapur lainnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair atau bahan olahan bernilai ekonomi. Minyak jelantah yang dihasilkan dari aktivitas kuliner dapat diolah kembali menjadi produk turunan yang aman dan bermanfaat.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...