Gastronomi, Rempah, dan Jalan Baru Pembangunan Berkelanjutan Kota Ternate

Oleh: M. Syafei Baay
(ASN, pemerhati lingkungan dan perkotaan)
Penyelenggaraan Ternate Gastronomy Festival 2025 oleh Pemerintah Kota Ternate bukan sekadar agenda perayaan Hari Jadi Kota Ternate ke-775.
Lebih dari itu, festival ini menjadi penanda penting bahwa Ternate tengah menegaskan kembali jati dirinya sebagai Kota Rempah, sekaligus membuka ruang baru bagi pembangunan yang berpijak pada budaya, ekonomi kreatif, dan keberlanjutan lingkungan.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 30 Desember 2025
Sejarah panjang Ternate sebagai pusat perdagangan rempah dunia menjadikan makanan, bumbu, dan tradisi makan bukan sekadar urusan selera, tetapi bagian dari identitas kota.
Melalui festival gastronomi, narasi sejarah tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk yang lebih kontekstual dengan tantangan hari ini: bagaimana budaya lokal dapat menjadi penggerak ekonomi, sekaligus menjawab persoalan lingkungan perkotaan.
Gastronomi, dalam pengertian modern, tidak hanya berbicara tentang apa yang dimakan dan bagaimana rasanya. Gastronomi adalah cara memandang makanan sebagai sebuah sistem utuh, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, konsumsi, hingga apa yang tersisa setelahnya.
Di titik inilah gastronomi bertemu dengan isu lingkungan, khususnya persoalan limbah makanan (organic food waste) yang selama ini sering dipandang sebagai beban kota.
Festival gastronomi yang digelar di Benteng Orange, dengan ragam tema di setiap wilayah kota, secara tidak langsung memperlihatkan kekayaan potensi tersebut.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar