Islah NU dan Misteri Investor Tambang

Oleh: Tauhid Arief
(Wartawan Malut Post)
Di tengah umat kristiani merayakan Natal 25 Desember 2025, kalangan Nadliyin ikut bersukacita di harI yang sama. Kegaduhan atas munculnya dualisme kepemimpinan berakhir melalui cara beradab NU; Islah. Gus Yahya tetap diakui sebagai Ketua Umum PB NU.
Muktamar luar biasa yang sempat menjadi wacana sebelum adanya islah, berubah jadi muktamar biasa. Hanya saja waktunya dipercepat dari agenda normal.
Pelaksanaan muktamar yang dimajukan memang dianggap lebih bernuansa "soft" dibanding harus menggelar Muktamar Luar Biasa (MLB) yang bisa saja muncul gontok-gontokan akibat saling mempertahankan ego dengan argumentasi masing-masing.
MLB adalah bagian tuntutan bottom up --meski terkadang ada keterlibatan setingan para elit/top down--- atas pelanggaran organisasi dan krisis kepercayaan terhadap pimpinan. Agenda utama bisa menjurus pada hukuman atau "kudeta" beraroma paksaan yang dikondisikan legitimate.
Sementara pelaksanan muktamar yang dipercepat jadi sebuah pertemuan besar rekonsiliasi dan mencari titik temu dari sejumlah persoalan yang muncul ke permukaan untuk kepentingan soliditas organisasi.
Kegiatan ini sekaligus meminta pertanggungjawaban pengurus pusat, dan dilanjutkan pada pemilihan pengurus untuk menjalankan kerja-kerja berikutnya.
Mengapa dalam islah disepakati pelaksanaan muktamar ke-35 sesegera mungkin?
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar