Kepecaryaan Warga Pelita Terhadap Air Bersih Ahadao dan Sumur Tua Ambatu

Ahadao adalah tempat mata air itu berada yang dikelilingi pohon besar dan pohon kayu soki dalam bahasa masyarakat kampung dan konon katanya air ahadao ini memiliki tuan atau penjaga yang menaunggi pohon air tesebut.
Mana ada di pedalaman hutan adanya kayu soki dan kuli biya serta popaco dalam bahasa masyarakat kampung, menurut masyarakat mungking dulu pulau mandioli ini pernah tinggelam sehingga di tenggah hutan pun ada kayu soki dan kuli biya serta popaco itu ada.
Baca juga: Filsafat dan Teologi Pembebasan dalam Konteks Sosial
Sebagian juga berasumsi bahwa dipulau mandioli ini miliki semacam meki atau istilah lain moro yang menjaga pulau ini yang namanya Manoli.
Cerita seperti ini adalah cerita masyarakat kampung yang tidak asing lagi ditelingga kita khususnya generasi sekarang. Air ahadao menjadi cerita mistis atau hanya sekedar mitos belaka yang tidak sesuai sumber yang benar.
Air bersih memang ada yang dikelilingi oleh pohon besar, serta faktanya ada pohon soki dan kuli biya, akan tetapi cerita bahwa ia memiliki tuan atau penjaga perlu kiranya di rekonstruksi ulang cara kita untuk berpikir.
Khususnya generasi yang ada sekarang, supaya cerita ini tidak menjadi reverensi atau ajimat untuk diyakini kebenarannya bagi generasi selanjutnya.
Baca juga: Kritik: Retorika Murahan dan Playing Victim Terhadap Nilai
Air bersih ahadao menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat pelita, bayangkan pejalanan dari kampung ke tempat air bersih ahadao ditempuh dengan perjalanan kaki sekitar tiga kilo, mereka berusaha untuk menyambungkan pipa besi air dai Bak air dikampung ke tempat mata air ahadao.
Jika sewaktu waktu mengalami kendala atau air mengalami kemacetan, maka mereka dengan gigi berusaha untuk mencari sumber dimata pipa air yang terlepas, mungkin pipanya tersumbat oleh tanah atau rumput dari mata air tesebut.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar