Jalan Panjang Ekosistem Inovasi

Ketika ekspor begitu dominan, kemampuan inovasi—baik melalui litbang daerah, riset inovasi, maupun penguasaan teknologi industri—menjadi kunci agar Malut tidak hanya menjadi “penonton” dalam rantai nilai global, tetapi menjadi aktor yang memiliki posisi tawar.
Sayangnya, RPJPD menyampaikan sebuah diagnosis yang jujur tetapi penting, dimana kapasitas riset dan inovasi Maluku Utara masih lemah.
Keterbatasan ini terlihat pada minimnya program studi STEAM di perguruan tinggi, rendahnya keberadaan lembaga penelitian, belum optimalnya kolaborasi triple helix, serta belum kuatnya budaya inovasi di sektor publik maupun swasta (RPJPD Malut 2025-2045).
Padahal, industrialisasi tidak hanya memerlukan investasi fisik, tetapi juga investasi pada pengetahuan—baik dalam bentuk penelitian, inovasi proses, maupun peningkatan kapasitas SDM industri.
Pada sisi lain, indikator pendidikan memberikan gambaran bahwa fondasi untuk meningkatkan kapasitas riset sebenarnya mulai terbentuk.
Indeks Pendidikan Maluku Utara naik dari 63,13 (2014) menjadi 69,03 (2023), melampaui rata-rata nasional yang berada pada angka 65,76.
Namun pencapaian ini tidak merata. Kota Ternate mencatat indeks 84,07, jauh di atas kabupaten lainnya. Kesenjangan ini berimplikasi langsung pada distribusi talenta, kualitas tenaga kerja, dan kapasitas inovasi antarwilayah.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar