Politik, Kepemimpinan, dan Warisan Peradaban: Kepemimpinan Ir. Hein Namotemo, M.SP

Albri Labaka

Institusi pendidikan ini bukan sekadar peningkatan layanan pendidikan, tetapi merupakan upaya membangun peradaban jangka panjang. Melalui visi “Kampungkan Kampus,” universitas tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi desa, memperkuat inovasi, serta meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir Halmahera.

Capaian riset kolaboratif, pengabdian masyarakat, dan paten-paten nasional menjadi bukti awal bahwa institusi ini berkembang sebagai rumah produksi pengetahuan dan inovasi.

Dalam perspektif Immanuel Kant, pendidikan merupakan sarana paling fundamental bagi pembebasan manusia dan pembangunan rasionalitas.(Muthmainnah, 2018) Dengan demikian, kontribusi Hein di bidang pendidikan menunjukkan bahwa ia bukan sekadar tokoh pembangunan, tetapi juga tokoh peradaban.

Warisan Kepemimpinan dan Duka Kolektif

Wafatnya Hein Namotemo pada 5 Desember 2025 menimbulkan duka kolektif yang luas. Respons emosional masyarakat Halmahera Utara menunjukkan apa yang disebut John Stuart Mill sebagai dampak moral kepemimpinan pengaruh seorang pemimpin yang melampaui jabatan formal dan membentuk kesadaran etis masyarakatnya.

Kehadirannya dikenang bukan hanya karena capaian-capaian pembangunan, tetapi karena kepribadian humanis dan kedekatannya dengan warga. Dalam konteks kepulauan yang menghadapi ketimpangan pelayanan publik, kepemimpinannya yang berakar pada empati dan tanggung jawab sosial menjadi sangat berarti.

Menuju Pemaknaan Baru tentang Kepahlawanan

Menghadapi momentum Dies Natalis Universitas Hein Namotemo yang ke-10 pada 24 November 2025 dan peringatan Hari Pahlawan 10 November, refleksi terhadap kontribusi Hein menjadi sangat relevan.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 menegaskan bahwa gelar pahlawan diberikan kepada mereka yang telah tiada dan memberi jasa besar bagi bangsa.

Dengan menilai tiga pilar kepemimpinannya pembangunan, perdamaian, dan peradaban tidak berlebihan apabila masyarakat memandang Hein sebagai figur yang memenuhi substansi kepahlawanan sejati.

Ia menunjukkan bahwa dari wilayah pesisir Nusantara pun dapat lahir pemimpin yang mengukir dampak besar melalui integritas, keberanian moral, dan dedikasi tanpa henti. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...