Politik, Kepemimpinan, dan Warisan Peradaban: Kepemimpinan Ir. Hein Namotemo, M.SP

Albri Labaka

Kepemimpinan Hein tidak semata-mata administratif, tetapi transformasional. Ia membangun arah pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada proyek fisik, tetapi juga pembangunan sosial, konsolidasi identitas, dan penguatan karakter masyarakat.

Dalam konteks teoritis, pendekatan ini sejalan dengan model kepemimpinan transformasional yang menekankan visi jangka panjang dan kemampuan menginspirasi perubahan sosial.

Budaya Lokal sebagai Modal Politik

Salah satu kontribusi utama Hein adalah kemampuannya mengintegrasikan nilai budaya lokal sebagai fondasi pembangunan. Dengan mengangkat filosofi Hibualamo sebagai simbol persaudaraan dan identitas kolektif masyarakat Halmahera Utara, Hein menegaskan pentingnya budaya lokal dalam membangun stabilitas sosial dan legitimasi politik.

Pendekatan ini selaras dengan pandangan Clifford Geertz bahwa makna budaya menjadi dasar orientasi sosial sekaligus kerangka interpretatif bagi tindakan politik.(Hilal, 2019) Dalam masyarakat yang pernah mengalami konflik, pelestarian budaya menjadi sarana rekonsiliasi yang efektif.

Hein memfasilitasi dialog komunitas, kerja sama antarkelompok, dan revitalisasi budaya lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan sosial.

Integritas, Pendidikan, dan Warisan Peradaban

Salah satu aspek yang menonjol dalam kepemimpinan Hein adalah integritasnya. Dalam konteks sistem politik lokal yang rentan terhadap korupsi, ia memilih untuk menjaga jarak dari praktik penyelewengan kekuasaan.

Pilihan moral tersebut merefleksikan prinsip bahwa kekayaan sejati bukanlah materi, melainkan kontribusi terhadap peradaban. Komitmen inilah yang mendorongnya mendirikan Universitas Hein Namotemo pada 2015 di pusat Kota Tobelo.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...