Rendang dan Empati untuk Masyarakat Sumatera Barat

Semua itu diklaim oleh pihak-pihak tertentu hanya sisa potongan kayu tua. Padahal potongan kayu ukurannya besar. Potongannya presisi. Potongan itulah yang menyeret pondasi rumah warga di tepi sungai.
Banjir bandang tidak hanya lewat ke sungai-sungai yang mengalir selama ini. Banjir bandang lewat di jalur yang bukan jalur air. Hal itu yang membuat rumah-rumah dan kampung-kampung tenggelam. Masyarakat tidak sempat menyelamatkan harta bendanya.
Aparat Datang Mengevakuasi dan Bersihkan Material Banjir
Tidak elok rasanya jika melupakan peran dari aparat kepolisian, petugas Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan relawan sosial lainnya.
Mereka hadir dari hari pertama menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Mengevakuasi warga yang terkepung banjir. Hingga kini mereka masih bahu membahu membantu warga. Aparat-aparat itu juga bagian dari keluarga korban. Mereka menempatkan hati nuraninya menyelamatkan para korban.
Publik Mendesak Tanggap Darurat Bencana Nasional
Derasnya gelombang penggalangan bantuan dari masyarakat sipil karena Pemerintah tidak membuat pernyataan soal tanggap bencana yang cepat. Ditambah ada pernyataan bencana itu hanya mencekam di media sosial.
Kondisi disebut telah membaik. Nyatanya, masih ada warga yang belum tersentuh bantuan. Bantuan tidak bisa terkirim karena akses yang putus. Pun ada bantuan, pengiriman hanya dari udara.
Desakan publik terhadap Pemerintah mengerahkan bantuan logistik untuk korban bencana karena para korban adalah masyarakat Indonesia. Mereka punya hak yang sama atas perhatian Pemerintah. Kenapa gerakan bantuan dari pemerintah tidak secepat bencana yang terjadi di daerah lain.
Ini bukan sekadar luka dan bencana di Sumatera Barat. Bukan sekadar rendang yang belum sampai ke lokasi bencana untuk mengganjal perut warga yang berhasil evakuasi. Tapi, luka hati saudara-saudara kita di Sumatera Utara dan Aceh.
Mereka lebih miris lagi. Mereka menangis karena bantuan tidak secepat harapannya. Tidak secepat bantuan pemerintah yang mereka lihat di televisi atau media-media sosial.(JP) (*)




Komentar