Rendang dan Empati untuk Masyarakat Sumatera Barat

Mereka menggandeng lembaga sosial dan filantropi. Mereka mengetuk hati masyarakat Indonesia untuk bahu membahu mengurangi beban dan mengobati duka keluarga korban agar tetap tabah.
Selang beberapa hari total bantuan terkumpul mencapai miliaran rupiah. Bantuan pun dikirim dan diantar langsung. Mereka menembus jalan-jalan yang terputus, dan daerah-daerah terisolasi dengan cara bergotong royong.
Gelombang bantuan pun datang dari para perantau Minangkabau. Tanpa dimobilisasi, mereka bergerak menghubungi sanak keluarganya berkirim bantuan dengan cara sendiri tanpa komando.
Mereka mengakses sanak keluarga yang masih selamat untuk dijadikan perpanjangan tangan membantu saudara-saudara yang tertimpa bencana. Minimal bantuan itu membuat yang terkena bencana bisa makan. Perut mereka tidak kosong.
Baju bisa diganti karena sudah kuyup kena hujan dan banjir. Selain itu, ada para relawan lainnya yang mewakafkan tenaga dan pikirannya membantu mencari dan menyelamatkan korban di lokasi bencana. Hingga hari ini pencarian masih berlangsung. Segudang harapan masih ditumpukan keluarga korban kepada relawan.
Cara itu dilakukan masyarakat karena geramnya publik terhadap pernyataan pihak-pihak tertentu yang melukai hati mereka. Lambannya sikap pemerintah memberi respons terhadap bencana.
Lebih parah lagi, publik marah terhadap banjir bandang ini tidak sekadar membawa air bah. Ada yang lebih parah dari itu, potongan kayu-kayu gelondongan yang hanyut dari hulu sungai. Jumlahnya begitu banyak.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar