(Refleksi Hari Ayah Nasional)

On Father’s Day, Remember the Fatherless

Hariadi Hardy

Secara psikologis, ketiadaan ayah dapat mengakibatkan kurangnya stabilitas emosional bagi anak dan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Anak mungkin merasa tidak lengkap atau bertanya-tanya, mengapa ayah mereka tidak ada dalam kehidupan mereka.

Ketidakstabilan ini dapat memengaruhi cara mereka memandang hubungan interpersonal, termasuk kepercayaan terhadap orang lain.

Banyak Faktor yang dapat menyebabkan Fatherless, Budaya patriarki salah satunya. Budaya ini membagi peran secara kaku, di mana ayah sering dianggap hanya sebagai tulang punggung keluarga dan tidak terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari.

Keikutsertaan ayah dalam pengasuhan anak, sering dinilai sebagai kegagalan seorang ibu dalam mengurus anak. Hal ini pun didukung dengan didikan zaman dahulu yang mengglorifikasi peran seorang ayah hanya sebatas pencari nafkah.

Selain itu Faktor Ekonomi dan Tingginya angka perceraian dapat menyebabkan anak kehilangan figur ayah secara fisik dan/atau emosional. Pada tahun 2024, angka perceraian di Indonesia cukup memprihatinkan.

Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung mencatat ada 446.359 kasus perceraian. Jumlah ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Pada 2023, angka perceraian ada 408.347 kasus.

Kebutuhan Anak dari Ayahnya

Figur ayah, itulah hal utama yang paling dibutuhkan anak terhadap keberadaan ayahnya. Konsep anak tentang ayah, perannya dalam keluarga, interaksi sosialnya kepada ibu dan kepada anak - anaknya akan terbentuk melalui figur laki - laki dewasa yang dekat dengan kehidupan anak.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...