Kehadiran Bangsa Portugis di Ternate

Anike Muslimah

Tetapi Mesquita berkhianat dengan mengundang sultan dalam perjamuan makan malam dan menyuruh Antonio Pimental menikam yang mulia paduka Sultan dari belakang dengan keris. Hal ini yang memicu perlawanan sengit dari rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Babullah dengan mengepung benteng Gamlamo.

Terbunuhnya Khairun dan tampilnya Babullah menjadi semangat baru bala/rakyat Ternate dalam kesadaran perlawanan terhadap Portugis. “Penjajah harus angkat kaki”.

Dalam bulan Mei 1570, semua personil militer Portugis, para pedagang, misionaris, serta pribumi Kristen Moro dan Ternate telah berada dalam Benteng Gamlamo.

Pada 24 Desember 1575, Babullah mengutus pamannya Kaicil Tolo untuk menemui Gubernur Portugis terakhir, Nuno Pereira de Lacerda di dalam Benteng Gamlamo dan menyampaikan pesan dari Sang Sultan yang berisi :

Penghuni Benteng supaya menyerah tanpa syarat dalam waktu 24 jam, terhitung mulai dari jam 12.00 siang nanti
Semua penghuni Benteng akan dideportasi ke Ambon atau malaka, setelah terjadi penyerahan.

Apabila tidak mau menyerah, pada pukul 06.00 besok pagi pasukan Babullah sebanyak 10.000 orang akan menyerbu.

Pada 28 Desember 1575, Lacerda dan orang – orang Portugis lainnya menyerah, dan meninggalkan Ternate menggunakan kapal dagang.

Selesailah sudah perjuangan dan perlawanan rakyat Ternate dibawah Sultan Babullah dengan mengepung Benteng Gamlamo demi mengusir bangsa Portugis untuk selama lamanya dari bumi Kie Raha. (*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...