Romantisme Sang Demonstran

Di tengah kerumunan yang panik, di antara sirine yang meraung, dan tangisan yang memilukan, perjuangan itu tetap berlanjut. Namun, tanpa Alfian, tanpa Sinta yang berdiri teguh di sampingnya, rasanya dunia telah kehilangan sepotong sinarnya.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sinta. Ia kehilangan Alfian, kekasihnya, temannya, pemimpinnya, dan separuh jiwanya. Mimpi tentang perpustakaan pribadi, kebun kecil, dan sarapan Minggu pagi, kini hanya tinggal serpihan debu di antara puing-puing perjuangan yang belum usai. Tapi, di tengah kehampaan itu, Sinta tahu, perjuangan Alfian harus terus hidup. Di setiap tetes air mata, di setiap hembusan napasnya, ia akan menjadi Sinta yang tangguh, yang terus menyuarakan keadilan, demi Alfian, demi Halmahera, dan demi mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Komentar