Romantisme Sang Demonstran

Namun, realitas tak pernah seindah mimpi. Pagi itu, kabar mengenai rencana pengesahan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia yang baru, menggegerkan kampus. UU tersebut, menurut analisis SAMURAI, justru akan melanggengkan hierarki kekuasaan militer, mengancam kebebasan sipil, dan semakin meminggirkan rakyat kecil.

“Ini gila, Yan! Mereka mau memperkuat cengkeraman militer!” teriak Sinta, matanya memancarkan amarah yang sama denganku.

Konsolidasi darurat diadakan. Ruangan rapat SAMURAI penuh sesak. Udara terasa tegang, bercampur bau keringat dan semangat perlawanan. Aku berdiri di depan, memimpin diskusi, menyulut api keberanian di mata teman-teman.

"Kita tidak bisa diam!" seruku, suaraku menggelegar. "Jika UU ini disahkan, masa depan kita, masa depan Halmahera, akan semakin gelap! Kita harus lawan!"

Suara gemuruh setuju memenuhi ruangan. Aku menoleh pada Sinta. Ia menatapku, tatapan penuh keyakinan yang menguatkanku. Di tengah kekacauan dunia, kami adalah jangkar satu sama lain.

Aksi digelar. Ribuan mahasiswa membanjiri jalanan utama Ternate. Spanduk-spanduk berisi tuntutan kami berkibar gagah. Orasi-orasi lantang bersahutan, menyuarakan kemarahan rakyat. Aku berada di garis depan, seperti biasa, berhadapan langsung dengan barisan aparat. Sinta berdiri di sampingku, tangannya menggenggam erat tanganku. Dingin dan berkeringat, namun genggamannya tak pernah lepas.

"Alfian, hati-hati!" teriaknya saat dorongan pertama dari aparat mulai terjadi.

Kami maju, tak gentar. Saling dorong tak terhindarkan. Aku berteriak, mengutuk ketidakadilan. Suara sirene meraung, menyayat telinga. Gas air mata mulai ditembakkan, menciptakan kabut pedih yang menyesakkan napas. Aku terbatuk, mataku berair, namun aku tidak mundur.

Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras memecah keramaian. Orang-orang berteriak panik, berhamburan. Aku merasakan sentakan kuat di dadaku. Pandanganku mengabur. Suara-suara di sekitarku meredup, digantikan oleh dengung panjang.

Aku tersungkur. Sinta menjerit, namanya menggema di telingaku. Aku berusaha meraihnya, namun tanganku terasa sangat berat. Darah. Kulihat merah pekat membasahi kemejaku. Dingin menjalar dari dadaku, merayap perlahan ke seluruh tubuh.

Pandanganku semakin gelap. Di tengah kegelapan yang menyelimutiku, aku melihat Ibu. Wajahnya berseri, tangannya terulur. Ia tersenyum, senyum yang sama persis dengan yang kulihat di mimpiku setelah kepergiannya.

"Pulang, Nak. Ibu sudah menunggu."

Suara Sinta memanggil-manggil namaku, terdengar jauh, seperti bisikan dari dimensi lain. Aku ingin menjawabnya, ingin mengatakan padanya bahwa aku mencintainya, bahwa mimpi tentang perpustakaan pribadi kita akan tetap hidup. Tapi suaraku tak keluar.

Aku melihat ayah. Ia berdiri di belakang Ibu, menatapku dengan mata yang tak lagi dipenuhi amarah. Alda dan Arfandi berada di sampingnya, senyum tipis terukir di bibir kurus Arfandi. Mereka semua menungguku.

Perih. Perih di dadaku tak seberapa dengan perih membayangkan Sinta, sendirian, dengan mimpi-mimpi kami yang belum sempat terwujud. Perih membayangkan Halmahera yang masih berdarah. Perih membayangkan Alda dan Arfandi yang mungkin tak akan pernah merasakan keadilan.

Napas semakin berat, pandangan semakin gelap. Aku memejamkan mata, merasakan sentuhan terakhir di tanganku yang dingin. Sentuhan Sinta. Hangat. Seperti matahari.

Sinta tidak pernah berhenti berteriak. Namaku, Alfian, berulang kali disebutnya di antara isak tangis yang memilukan. Tangannya berlumuran darah, darahku. Ia mendekapku erat, seolah ingin menahan rohku agar tak pergi.

“Alfian! Bangun, Yan! Kamu janji akan membangun perpustakaan kita! Kamu janji!” teriaknya, suaranya serak dan pecah.

Tapi aku tak menjawab. Tubuhku terkulai, dingin.

Beberapa orang mencoba menarik Sinta menjauh, namun ia menolak, meronta. Ia mencium keningku yang dingin, air matanya membasahi wajahku.

“Kamu bilang kamu Alfian-ku! Kamu bilang kamu akan selalu jadi terangku!” bisiknya, menumpahkan semua rasa sakit dan putus asa.

Baca halaman selanjutnya ...

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...