Membangun Nalar Kritis di Era Digital: Tinjauan Madilog

Sahib Munawar

Melalui karya Madilog Tan, berusaha untuk melawan cara berpikir kuno, penuh mistik yang terbelenggu dengan takhayul, maka dengan kehadiran Madilog adalah kerangka berpikir berdasarkan kenyataan rill dan penuh rasional, tanpa terjebak pada Hoax.

Tan Malaka seperti halnya Karl Marx, ia setuju bahwa negara dengan penjelmaan dari pertentangan kelas, kelas bawa seperti halnya budak, pekerja, dan kelas atas seperti tuan, bangsawan atau pemilik modal kapitalis.

Karena dipicu oleh perbedaan terhadap kepemilikan alat alat produksi yang mengakibatkan munculnya ketidakadilan, seperti halnya di Indonesia kita sekarang.

Maka diakhir dari tulisan gila ini saya ingin menyampaikan bahwa Kapitalisme digital mengubah pengguna menjadi buruh yang tidak dibayar: menciptakan nilai melalui data yang bukan milik mereka. Data kita di like, share, stream tidak gratis: ia adalah sumber nilai lebih baru bagi platform.

Para proletar digital tidak menerima upah finansial, melainkan kepuasan fiktif yang mengaburkan eksploitasi nyata.
Kelas bawah digital terpaku di treadmill  dan konten, sedangkan kapitalis platform mengumpulkan nilai lebih tanpa relokasi pabrik fisik.

Maka Vladimir Lenin dia juga bilang bahwa Tiktok adalah perbudakan,antara Budak dan Tuan.Dan Frederick Nietzsche meng istilah kan dengan Moral Budak.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...