(Menelitik Dinamika Konferensi HMI Cabang Ternate)
Upaya Mewujudkan Mission HMI

Ia mengingatkan bahwa konferensi harus diarahkan pada pembahasan substansi organisasi, bukan sekadar ritual formalitas atau ajang kontestasi politik internal. Alumni lain, seperti Prof. Azyumardi Azra, menekankan bahwa konferensi HMI harus menjadi laboratorium kepemimpinan inklusif.
Dalam pandangannya, pemimpin yang dihasilkan dari forum ini tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan menyatukan berbagai pandangan. "HMI tidak boleh menjadi organisasi yang terjebak pada ego kelompok atau faksionalisme," ujarnya.
Pemimpin hasil konferensi harus mampu menjawab tantangan zaman dengan inovasi tanpa kehilangan akar ideologis Islam. Untuk itu, para alumni mengusulkan bahwa agenda konferensi perlu mencakup pelatihan kepemimpinan berbasis integritas dan kolaborasi lintas sektor.
Tradisi intelektual adalah salah satu pilar utama dalam misi HMI. Para alumni mengingatkan bahwa konferensi harus menjadi ruang untuk memantik diskusi-diskusi strategis tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial-politik.
Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, selalu menekankan pentingnya menjadikan forum HMI sebagai ruang dialektika ide. Menurutnya, tanpa tradisi intelektual yang kuat, organisasi hanya akan bergerak secara pragmatis dan kehilangan arah perjuangan.
Dari perspektif alumni, konferensi bukan hanya ruang untuk menyusun struktur organisasi baru, tetapi juga sarana strategis untuk melakukan konsolidasi visi, membentuk pemimpin inklusif, dan memperkuat tradisi intelektual.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar