Catatan
Membaca Masa Lalu dengan Kacamata Poskolonial

Dengan alasan penghematan, kawan asal Semarang itu mengajak anaknya antre dalam barisan wisatawan lokal sementara istrinya antre di barisan wisatawan asing.
Mendekati pintu masuk, si anak yang sumringah melihat ibunya antre di barisan lain berteriak memanggil ibunya dan bicara dalam bahasa Belanda. Spontan si bapak yang wong Jowo tulen itu meminta anaknya yang blasteran itu diam karena kalau ketahuan petugas tiket maka dia dikenakan tarif wisatawan asing.
Perbedaan tarif masuk berbeda berangkat dari asumsi bahwa wisatawan asing lebih makmur dibanding wisatawan lokal yang kere. Lagi pula nilai tukar euro lebih tinggi dibanding rupiah. Fenomena ini menjelaskan tentang hubungan Barat dan Timur yang timpang sebagai hasil dari relasi kuasa di era kolonialisme di masa lalu.
Gambaran tentang superioritas versus inferioritas manusia juga dipengaruhi oleh persepsi bias rasialis yang terbentuk dari pengalaman masa lalu sebuah bangsa.
Dalam konteks Indonesia, pengaruh kolonialisme Belanda yang segregatif rasialis dan diakriminatif membentuk pola hubungan masyarakat yang tersekat oleh batas-batas identitas ras. Adalah tembok kota Batavia, tempat orang-orang Belanda VOC pertama bermukim, bentuk-bentuk awal dari hubungan kolonialisme dan rasialisme bisa dikenali dalam sejarah di Indonesia.
Frantz Fanon dalam The wretched of earth (2001) memahami bahwa dunia kolonial sebagai sesuatu yang pejal dengan ras. Substruktur ekonomi di dalam dunia kolonial berkerja sebagai suprastruktur, dimana sebab berperan pula sekaligus sebagai akibat: Anda kaya karena berkulit putih, Anda berkulit putih maka Anda kaya. Atau Anda cantik karena berkulit putih, Anda berkulit putih maka Anda cantik.
Persoalan rasial yang benihnya ditanam sejak era kolonial bermula seakan terbawa menjadi kutukan bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? Pada masa awal kemerdekaan, warga Tionghoa, Manado, Ambon, Belanda dan Indo-Belanda menjadi sasaran kemarahan warga karena bara dalam sekam terpendam sejak era kolonial.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar