Catatan

Membaca Masa Lalu dengan Kacamata Poskolonial

"Apakah dia seorang guru?" tanya pemilik hotel penasaran. "Kalau dia seorang guru, dia bukanlah kolega saya," jawab Sneevliet.
"Kalau begitu kami tidak terbiasa menerima tamu inlanders (bumi puttra) seperti dia," ungkap pemilik hotel bernama Haalenbos itu, "Di kota ini ada hotel-hotel milik orang Cina yang bisa menerima orang-orang semacam dia," katanya melanjutkan.

Tetiba saja Sneevliet naik pitam. "Tamu-tamu macam apa yang diperbolehkan datang ke hotel Anda? Tamu-tamu itu bisa datang kemari dan seenaknya mengeruk keuntungan dari penduduk di sini tapi cara mereka memperlakukan rakyat ini semaunya saja."

Di tengah percakapan itu berlangsung, Semaun masuk. Sneevliet memberitahu Semaun tentang percakapan dia dengan pemilik hotel. Sambil menjinjing koper, mereka bergegas meninggalkan hotel dan menghampiri jongos pegawai hotel.

Semau mengajak para jongos untuk bergabung dengan pemogokan buruh yang diatur Sarekat Islam. Sneevliet pun tak kalah sewot dengan mengatakan apakah jongos-jongos itu masih kerasan bekerja pada tuan yang menolak kawan sebangsanya untuk bisa menginap di hotel itu?

Mereka berdua memutuskan untuk pergi dari hotel, meninggalkan pemilik hotel yang rasis itu. Dalam tulisannya di Het Vrije Woord, sebagaimana dikutip oleh Marx Perthus dalam Henk Sneevliet: Revolutionair-socialist in Europa en Azië (1976).

Sneevliet mengaku bisa saja memperkenalkan Semaun sebagai seorang bangsawan bergelar raden atau anak seorang raja supaya mereka bisa menginap disana. Tapi Sneevliet tidak melakukannya dan memilih untuk menumpang tidur di hotel lain yang dikelola oleh seorang pemilik Indo.

Bonnie Triyana masih melanjutkan kisah menarik lain soal hubungan relasi kuasa dalam bingkai rasisme yang masih berlangsung di era ini. Seorang kawan Indonesia yang beristri Belanda pernah mengajak anak-istrinya berwisata ke Candi Borobudur.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...