Catatan
Membaca Masa Lalu dengan Kacamata Poskolonial

Seperti Said Boehmer menekankan bahwa Empire sebagian besarnya adalah textual undertaking. Teks tidak hanya mereprentasikan realitas tapi juga turut membentuknya.
Dengan pendekatan itu, ketika membaca beberapa referensi terkait sejarah, kita harus melihat aspek-aspek 'terselubung' yang sengaja dipakai untuk membangun opini penulisnya karena ia sendiri terkonstruksi secara kolonial.
Misalnya saat saya membaca buku karangan pendeta Dr. F.C. Kamma, Ajaib Di Mata Kita (tiga jilid) saya menemukan 'keganjilan' dimana dalam salah satu babnya mengisahkan Sultan Tidore yang menjual orang-orang Papua ke pasar budak di Ternate dan sebagian lain dipaksa memeluk agama Islam.
Disini studi poskolonial sangat diperlukan untuk tidak sekadar 'membaca kembali' (reads back) tapi menurut saya perlu 'menulis kembali' (writes back) sejarah dengan mengikutsertakan tinjauan ras, gender, pendidikan dan kultural di dalam menganalisis suatu peristiwa yang terjadi di era kolonial.
Berbeda kasus dengan Kata Pengantar yang ditulis oleh Bonnie Triyana untuk buku "Kolonialisme, Kapitalisme dan Rasisme," yaitu kejadian yang menimpa Semaun dan Sneevliet (terlepas dari catatan kelam tentang keduanya) yang ditolak menginap di Hotel Centraal, sebuah hotel yang cukup terkenal di Probolinggo 100 km arah tenggara kota Surabaya. Kejadian tanggal 16 Juli 1917 itu memilukan.
Atas rekomendasi seorang kusir delman, Henk Sneevliet dan Semaun menuju hotel itu. Sesampai disana Sneevliet menjatuhkan dirinya pada sebuah kursi malas di beranda hotel sementara seorang jongos petugas hotel membawakan koper-koper dari delman. Lantas pemilik hotel datang menghampirinya.
"Tuan, siapakah orang yang datang bersama tuan itu?" "Oh, dia kolega saya," jawab Sneevliet sambil duduk bergoyang di kursi malasnya.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar