Catatan

Membaca Masa Lalu dengan Kacamata Poskolonial

Cermin Poskolonia menawarkan sebuah model pembacaan kritis, retrospektif dan reflektif terhadap sastra untuk mempelajari masa lalu dan menyajikan cerita-cerita dengan tokoh, latar, dan tema yang beragam.

Menurut Edward W. Said, Abad ke-19 sebagai masa kemunculan 'Barat'. Ini merupakan periode ketika Eropa merasa berhak atas sebagian besar wilayah dunia. Namun persepsi terhadap 'Timur' bukanlah hal baru.

Sejarahnya panjang dan bermula dari zaman klasik. Pada abad ke-19 diskursus ini memiliki wujud yang baru di bawah pengaruh teori ras Darwinisme (sosial), yaitu ketika ras 'putih' dianggap sebagai derajat tertinggi dari evolusi manusia.

Superioritas ini membekali lelaki 'kulit putih' dengan imperial eyes: kuasa untuk melihat, menilai, mengelompokkan dan menguasai. Menurut Said, tradisi orientalistik ini.

Dengan jaringan rasisme dan stereotip yang termasuk di dalamnya atau yang disebut 'arsip kultural' begitu berpengaruh sehingga bahkan sampai hari ini pun masih aktif.

Lihat saja iklan sabun atau jel pemutih kulit di televisi yang menunjukkan 'kecantikan' hanya milik ras kulit putih. Imperialisme, menurut Said, tidak pernah berakhir meskipun ada dekolonisasi.

Said secara khusus tertarik dengan posisi penulis secara individu. Sejauh mana seorang penulis dapat menarik diri dari kekuatan penggerak diskursus itu? Dalam Orientalism, Said masih berasumsi bahwa penulis individu tidak mampu melakukan itu; diskursus tersebut terlalu kuat untuk dihindari.

Namun kemudian, Said mengisyaratkan bahwa ia berubah pikiran. Dalam bukunya Culture and Imperialism (1993) Said bahkan memberikan contoh dari Belanda, yaitu seorang penulis Eduard Douwes Dekker, Multatuli yang dalam konteks kolonial telah mengutarakan suara kritis dan bahkan anti kolonial.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...