Membayangkan Orang Togutili Bahagia

Apa artinya pertambangan kalau harus merusak rasa nyaman penduduk setempat dan tidak meningkatkan kesejahteraan nyata orang-orang yang telah hidup di tempat itu jauh sebelum Indonesia merdeka? Di hadapan pertanyaan-pertanyaan kemanusiaan inilah --- bahkan juga terkait dengan kelestarian alam ---- miris rasanya menyaksikan masa depan dan hak hidup komunitas Togutili dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang menjujung tinggi martabat manusia.
Bahagia di Atas Penderitaan.
Maka fakta propinsi paling bahagia dan pertumbuhan ekonomi meningkat tidak mengurangi rasa sakit di dalam dada, bahwa angka kemiskinan masih bertambah dan anggota komunitas Togutili terancam di wilayahnya sendiri. Realitas ini menyerupai mitologi Yunani Sisypus yang menderita, sia-sia, dan berakhir dengan kematian.
Penting bagi kita untuk melihat kemungkinan pendekatan Albert Camus mengenai realitas sosial-ekologis masyarakat Halmahera yang dalam ukuran BPS dikategorikan warganya miskin tetapi bahagia, dan yang hutannya digusur tetapi tidak menyerah. Itu karena terminologi miskin, sejahtera, dan bahagia berbeda tolok ukurnya antara kita manusia yang bikin diri modern tetapi merusak alam dan makhluk hidup di dalamnya, dengan masyarakat setempat dengan local wisdomnya yang karenanya selalu mengalami kebahagiaan.
Jadi sekarang apa yang dikemukakan Camus mudah dimengerti, bahwa mungkin dalam waktu yang lama orang-orang memandang masyarakat Halmahera menderita secara ekonomi dan orang-orang Togutili disebut primitif, yang karenanya perlu ditolong dengan jalan memasukkan tambang transnasional. Bagi yang masih beranggapan demikian perlu melakukan pertobatan ekologis-hamanis dan memulainya kembali dengan pengertian baru sebagaimana dihidupi orang-orang Halmahera sendiri.
Data BPS memperlihatkan angka kemiskinan bertambah di Maluku Utara itu terjadi di kota, sementara angka kemiskinan di desa-desa menurun. Lalu tahun 2017 dan 2021 masyarakat Maluku Utara terbukti bahagia walau angka kemiskinan masih tinggi, bukan karena angka pertumbuhan ekonomi Maluku Utara naik tajam melainkan karena kecakapan dan kemampuan orang-orang Halmahera beresiliensi dengan tantangan hidup yang mereka hadapi.
Dalam penggertian inilah maka kita dapat memahami dan menghayati bahwa apa yang dilakukan oleh komunitas Togutili seperti diviralkan itu adalah pertanda mereka sedang mulai tidak nyaman dan kebahagian mereka sebagai komunitas nomaden mulai terusik. Bahkan mereka boleh jadi mulai teracam dengan kelangkaan sumber hidup sehari-hari mereka.
Maka di sini kita pun perlu membaca penanda --- meminjam ungkapan Camus tentang perjuangan Sisyphus untuk memperoleh kebahagian dengan gigih --- sejatinya keberanian anggota komunitas Togutili menemui penambang bukan saja menandakan bahwa mereka perlu makan melainkan sebuah bentuk protes makin terusiknya kebahagiaan mereka! Dan mereka boleh jadi akan terus berjuang dengan cara mereka sendiri, sekalipun mereka selalu dikalahkan oleh orang-orang yang bahagia di atas penderitaan mereka.!(*)
Opini ini sudah terbit dikoran Malut Post edisi. Senin, 03 Juni 2024.
Komentar