Ketika Imunisasi Mulai Ditakuti
Oleh: Ridwan Prayogi
(Statistisi Ahli Muda pada BPS Provinsi Maluku Utara)
Sebuah video tentang anak balita yang mengalami kelumpuhan setelah imunisasi beredar di media sosial. Orang tuanya mengaitkan kondisi tersebut dengan imunisasi yang baru diterima sang anak. Cerita semacam ini mudah membuat orang tua lain cemas.
Dalam waktu singkat, video dapat menyebar dan memunculkan pertanyaan: apakah imunisasi memang bisa menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian?
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 5 November 2026
Pertanyaan itu wajar. Namun, jawabannya tidak semestinya hanya berupa imbauan agar orang tua percaya kepada pemerintah atau tenaga kesehatan. Jawabannya harus dicari melalui data dan pemeriksaan medis.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 92,09 persen anak usia 0–59 bulan pernah diberi imunisasi pada 2025. Angka ini perlu dibaca hati-hati karena pernah menerima imunisasi tidak sama dengan memperoleh imunisasi lengkap.
Survei Cakupan Imunisasi Indonesia 2025 yang didukung WHO menunjukkan hanya 56,4 persen anak usia 12–23 bulan telah mendapatkan imunisasi lengkap.
Data BPS juga menunjukkan persoalan kepercayaan. Dari balita yang tidak pernah diimunisasi, sebanyak 74,43 persen orang tuanya khawatir terhadap efek samping vaksin, 41,37 persen khawatir terhadap kandungannya, dan 39,21 persen meragukan efektivitas imunisasi. Artinya, tantangan imunisasi bukan hanya ketersediaan layanan, tetapi juga keyakinan masyarakat.
Orang tua yang bertanya tentang efek samping bukan berarti otomatis menolak ilmu pengetahuan. Mereka sedang mengambil keputusan untuk anaknya. Karena itu, pertanyaan mereka perlu dijawab dengan informasi yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah perbedaan antara kejadian setelah imunisasi dan kejadian yang disebabkan oleh imunisasi.
Baca Halaman Selanjutnya..