Ilusi Raksasa Rp326 Triliun: Akankah Danantara Menjadi Temasek Indonesia atau Menuju Trap 1MDB?
Oleh: Dr. Muhammad Kamal, S.E., M.Si.
Angka Rp326 triliun mudah menciptakan optimisme tentang masa depan pengelolaan kekayaan negara Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menyebut laba agregat BUMN 2025 mencapai angka tersebut, meningkat 75,3 persen dibandingkan Rp186 triliun pada 2024.
Dividen BUMN pada 2025 juga dilaporkan mencapai Rp142,3 triliun, naik 67 persen dari tahun sebelumnya. Kinerja itu muncul bersamaan dengan perubahan besar pengelolaan BUMN melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 9 Oktober 2026
Pemerintah ingin mengubah negara dari pemilik aset pasif menjadi pemilik modal aktif yang mengejar produktivitas dan penciptaan nilai. Namun, semakin besar kekayaan yang terkonsentrasi dalam satu institusi, semakin besar pula risiko tata kelola yang harus dikendalikan.
Rp326 triliun karena itu tidak boleh hanya dibaca sebagai angka kemenangan. Laba besar belum otomatis membuktikan bahwa arsitektur kelembagaan baru telah bekerja secara optimal.
Danantara baru diluncurkan pada Februari 2025 sehingga sebagian kinerja BUMN tahun tersebut merupakan hasil keputusan investasi, restrukturisasi, kontrak, dan kondisi pasar yang terbentuk sebelum Danantara beroperasi.
Kontribusi perbankan, energi, dan pertambangan juga menunjukkan bahwa faktor makroekonomi dan harga komoditas tetap memengaruhi keuntungan agregat.
Pemerintah perlu memisahkan laba yang berasal dari efisiensi dengan laba yang berasal dari kondisi eksternal. Tanpa pemisahan tersebut, angka besar berpotensi menghasilkan ilusi keberhasilan kelembagaan.
Tetapi persoalan yang lebih penting daripada perdebatan mengenai atribusi laba adalah skala kekuasaan ekonomi yang sedang dibangun. Danantara mengonsolidasikan pengelolaan kekayaan negara dan menempatkan modal publik dalam kerangka investasi yang jauh lebih terintegrasi.
Konsolidasi menawarkan manfaat karena negara dapat mengurangi fragmentasi, mengoptimalkan portofolio, serta memindahkan modal dari aset berproduktivitas rendah menuju investasi dengan pengembalian lebih tinggi.
Baca Halaman Selanjutnya..