1. Beranda
  2. Opini

(Realitas Proyek Konstruksi Maluku Utara)

Bila Ilmu Mengalah pada Kegaduhan Opini

Oleh ,

Oleh: M. Sudarwin Hasyim, S.T., M.T.
(Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Teknik Sipil (Manajemen Konstruksi) Universitas Brawijaya Malang, Dosen Teknik Sipil Universitas Bumi Hijrah Tidore, Maluku Utara / Pemerhati Manajemen Konstruksi dan Sistem Rantai Pasok Konstruksi Kepulauan)

Pembangunan infrastruktur Maluku Utara sedang berada pada titik yang menentukan, ketika jalan, jembatan, pelabuhan, dan berbagai infrastruktur lainnya bukan sekadar karya fisik, tetapi urat nadi yang menghubungkan pulau, menggerakkan ekonomi, dan menjaga masa depan masyarakat kepulauan.

Di tengah karakter geoteknik yang khas, iklim maritim yang dinamis, serta tantangan logistik antarpulau, setiap keputusan konstruksi membawa konsekuensi yang jauh melampaui batas sebuah proyek.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 18 September 2026

Namun, di tengah semangat membangun tanah Moloku Kie Raha, muncul fenomena sosial-teknis yang patut menjadi perhatian: semakin kuatnya opini dan vonis teknis terhadap persoalan konstruksi dari pihak yang tidak memiliki kompetensi dalam Rekayasa Sipil dan Manajemen Konstruksi.

Kritik publik tentu penting sebagai bagian dari kehidupan demokratis, tetapi pembangunan tidak semestinya ditentukan oleh riuhnya opini; ia harus dituntun oleh ilmu, data, standar, dan keahlian.

Sebab, ketika suara yang paling keras menggantikan pengetahuan yang paling benar, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas sebuah bangunan, tetapi juga masa depan pembangunan Maluku Utara.

Ketika permukaan jalan mengalami kerusakan, proyek terlambat diselesaikan, atau muncul dugaan kegagalan struktur, ruang publik kerap bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi teknis.

Berbagai narasi generalisasi yang sensitif dan populis segera terbentuk hanya dari pengamatan visual (superficial visual inspection), tanpa didukung investigasi laboratorium, analisis geoteknik, maupun penelusuran menyeluruh terhadap faktor desain, pelaksanaan, kondisi lingkungan, dan rantai pasok konstruksi (construction supply chain).

Padahal, kerusakan yang terlihat di permukaan sering kali hanyalah gejala dari persoalan yang lebih kompleks. Karena itu, setiap penilaian terhadap kinerja konstruksi semestinya berangkat dari bukti, metode, dan kompetensi, bukan semata-mata dari apa yang tampak oleh mata.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga