Merindukan Rumah yang Hangat
Oleh: Asi Iksan
(Mahasiswa program studi Ilmu Sejarah FIB Unkhair)
Seperti apa rumah yang hangat itu? Aku selalu bertanya Kepada diriku, apakah aku juga punya rumah yang sama seperti yang di rasakan teman-temanku? apakah aku juga punya tempat di mana saat aku merasa capek dengan dunia, maka aku akan pulang ke rumah itu?
Tapi nyatanya itu cuman pertanyaan yang mungkin tidak bisa di jawab oleh diri ku sendiri, pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah aku merasakannya secara langsung, dan itu akan menjadi hayalan yang mungkin mustahil ku dapatkan.
Kadang aku iri lihat mereka yang selalu tertawa lepas bersama keluarga yang lengkap dan ada ibu di dalam nya, aku iri melihat mereka yang selalu bercerita tentang betap enaknya masakan seorang ibu, aku iri pada mereka yang selalu bercerita hal konyol yang mereka lakukan bersama ibu mereka.
Dulu aku juga pernah berada di posisi itu, posisi dimana sama seperti mereka rasakan, tertawa lepas bersama keluarga yang ada ibu di dalamnya, bercerita hal random yang mungkin bagiku dulu cuman cerita penghibur, bisa memakan masakan ibu, dan di saat dunia lagi capek-capeknya ibu adalah tempat untukku pulang, tapi semua itu hanyalah kenangan yang tidak bisa ku rasakan kembali, kenangan yang semakin memudar di ingatan.
Bagiku rumah yang hangat itu adalah rumah yang memiliki keluarga yang lengkap di dalamnya yang ada ibu, ayah, kaka, dan adik. Rumah yang selalu menerima ku di saat dunia menolak ku, rumah yang selalu membuat ku tertawa tanpa berpura-pura, dan rumah yang selalu mendukung semua keputusan yang ku ambil.
Tapi semua itu hilang di saat ibu pergi, dan hayalan itu tidak pernah terjadi, itu hanyalah kenangan masalalu yang semakin memudar, kenangan yang setiap saat semakin menghilang diingatanku, terkadang aku lupa seperti apa rasa masakan ibu, aku lupa sehangat apa dekapan ibu, dan aku lupa suara ibu, suara yang dulu bagi ku adalah hal biasa sekarang menjadi suara yang aku rindukan.
Dulu aku tak pernah berpikir ibu akan pergi meninggalkan ku, aku tak pernah berpikir kalau aku akan kehilangan dekapan hangat itu, dan aku tak pernah berpikir bahwa aku akan kehilangan dirinya.
Yang ada di pikiran ku bahwa ibu tidak akan pernah meninggalkan ku, ibu tidak akan pergi, ibu akan selalu di sisi ku menemaniku di saat susah mau pun senang, tapi nyatanya aku kehilangan dirinya. Dari situ aku belajar bahwa, kehilangan seorang ibu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterima.
Baca Halaman Selanjuntnya..