Fenomena Boom Bust Town di Malut: Ketika Kemakmuran Ekstraktif Meninggalkan Kota Mati
Oleh: Bahar Kaidati
(Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair)
Sejarah eksploitasi sumber daya alam di berbagai belahan dunia hampir selalu diiringi pola yang sama: kota yang lahir, tumbuh pesat, lalu meredup begitu sumber daya andalannya habis.
Fenomena ini dikenal sebagai boom bust town, yakni siklus ledakan pertumbuhan ekonomi dan populasi (boom) akibat kehadiran industri ekstraktif seperti pertambangan atau kehutanan, yang kemudian diikuti keruntuhan (bust) ketika perusahaan menutup operasi, cadangan sumber daya habis, atau harga komoditas anjlok.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 14 September 2026
Maluku Utara adalah salah satu wilayah di Indonesia yang paling kaya akan contoh nyata fenomena ini. Provinsi kepulauan ini menyimpan cadangan kayu, nikel, dan emas yang menarik gelombang investasi sejak era Orde Baru hingga masa boom nikel kontemporer.
Di balik statistik pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang mengesankan pada masa jayanya, tersimpan pola berulang: kota tambang dan kota kayu yang dahulu ramai kini menyisakan bangunan kosong, infrastruktur tak terawat, dan masyarakat yang harus membangun ulang kehidupan ekonominya dari nol.
Tulisan ini menelusuri jejak fenomena tersebut di lima lokasi yang telah mengalaminya secara nyata, Sidangoli, Falabisahaya, Pulau Gebe, Buli, dan Gosowong, serta mengulas dua kawasan yang tengah berada di puncak boom dan berpotensi menghadapi ancaman serupa di masa depan, yakni Lelilef di Halmahera Tengah dan Pulau Obi di Halmahera Selatan.
Sidangoli: Dari Gemuruh Mesin Pabrik ke Belantara Semak
Sidangoli, di Kecamatan Jailolo Selatan, Halmahera Barat, adalah contoh klasik boom bust town akibat industri kehutanan. Pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Pada puncaknya, perusahaan mempekerjakan ribuan karyawan dan menarik migrasi pekerja dari luar daerah, menjadikan Sidangoli kawasan padat yang dilengkapi berbagai fasilitas.
Sejak akhir 2000-an, operasi perusahaan dihentikan bertahap seiring menipisnya pasokan kayu dari hutan Halmahera. Ekonomi Sidangoli ikut lumpuh, ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, migran meninggalkan kawasan, dan bangunan pabrik yang dahulu megah kini ditumbuhi semak belukar.
Baca Halaman Selanjutnya..