Konektivitas Untuk Pertumbuhan yang Berkualitas
Oleh: Safruddin Jen
(Rimbawan Senior)
Secara nasional, sesuai evaluasi pembangunan nasional tahun 2020 – 2024, menunjukan tren yang positif. Rata rata pertumban ekonomi mencapai 5 persen, di tengah gejolak ekonomi dan tekanan inflasi global yang tinggi, dan tingkat suku bunga yang tinggi dan berkepanjangan.
Rata rata Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Petani (NTP) untuk semua subsektor hingga tahun 2023 berada di atas 100 persen, yang bermakna bahwa nelayan dan petani mendapatkan keuntungan. Begitupun jumlah penduduk miskin menurun hingga 3,06 juta selama 10 tahun terakhir.
Keberhasilan pembangunan nasional selama lima tahun di atas, terganggu saat pandemi COVID tahun 2020. Indonesia yang telah nasuk dalam negara pendapatan menengah atas (Upper-Middle Income Countries), menurun ke negara penadapatan menengah bawa (Lower Middle Income Countries).
Namun dengan berbagai kebijakan strategis seperti pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus, program peningkatan kesejahteraan petani, dan peningkatan nilai ekspor produk industri pengolahan dan realisasai investasi luar jawa, Indonesia kembali menjadi negara pendapatan menengah atas pada tahun 2023.
Pada tahun 2025 pembangunan nasional juga menunjukan tren perkembangan yang makin baik. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen menomgkat dari capaian tahun 2024 sebesar 5,03 persen. Nilai Tukar Petani mencapai 125,35, sementara Nilai Tukar Nelayan sebesar 103,86.
Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 75,90, meningkat 0,88 dibanding tahun 2024 yang sebesar 75,02. Konektivitas antar wilayah, pulau, titik titik produksi dan konektivitas antar pusat pusat pertumbuhan memberikan kontribusi yang besar pada keberhasil pembangunan nasional.
Namun kondisi keberhasilan pembangunan nasional ini belum tercermin secara merata di semua provinsi dan wilayah. Masih terjadi paradoks pembangunan.
Baca Halaman Selanjutnya..