PERAHU SARUMA Sebagai Jembatan Regulasi, Hilirisasi dan Kesejahteraan
Halmahera Selatan Menuju Kabupaten Agromaritim
Oleh: Achmad Dijanto Sajuti
(NDH: 42 Project Leader, Proyek Perubahan Perahu Saruma)
Pembentukan Regulasi Hukum Sarana untuk Masyarakat Agromaritim Menuju Senyum Halmahera Selatan Berkelanjutan
Halmahera Selatan tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghubungkan seluruh potensi itu menjadi satu ekosistem pembangunan: potensi dengan regulasi, regulasi dengan hilirisasi, hilirisasi dengan konektivitas, konektivitas dengan pasar, dan seluruhnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat.
Di titik inilah gagasan Halmahera Selatan menuju Kabupaten Agromaritim menemukan pijakannya. Ia bukan sekadar slogan pembangunan. Ia adalah visi baru, yang digagas oleh Bapak. Hasan Ali Bassam Kasuba sebagai Bupati Halmahera Selatan dan.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 1 September 2026
Bapak. Helmi Umar Muchsin sebagai Wakil Bupati Halmahera Selatan dalam membaca Halmahera Selatan sebagai wilayah kepulauan: laut dan darat tidak dipisahkan, produksi dan pasar tidak berdiri sendiri, pelabuhan tidak hanya menjadi tempat kapal datang dan pergi, dan regulasi tidak hanya menjadi kumpulan pasal. Semuanya harus bekerja sebagai satu sistem.
Bumi Saruma Memiliki Fondasi Agromaritim yang Nyata
Riset Hilirisasi Hasil Perkebunan Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2025 menegaskan bahwa kelapa, pala, dan kenari merupakan komoditas strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi.
Kajian tersebut menempatkan penguatan nilai tambah, pengembangan produk turunan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan ekonomi lokal sebagai arah penting pembangunan.
Bahkan peta jalan riset dan inovasi daerah 2025–2029 dirancang untuk mendukung Halmahera Selatan sebagai pusat agromaritim yang maju dan berkelanjutan.
Kelapa dinilai berpotensi menjadi salah satu tulang punggung hilirisasi dengan produk seperti kopra hitam/putih, VCO, briket tempurung, dan nata de coco. Pala memiliki peluang pada minyak atsiri, fuli, biji pala kering, dan berbagai olahan bernilai tambah, sedangkan kenari memiliki peluang pada pasar khusus pangan dan kosmetik.
Baca Halaman Selanjuntya..