Peer Educator dan Media Sosial: Dua Kekuatan Baru Transformasi Kesehatan Reproduksi Siswa SMP Al-Khairaat Kota Ternate
Ternate, Malutpost.com – Upaya meningkatkan literasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka. Tidak cukup hanya melalui ceramah di ruang kelas, edukasi juga perlu memanfaatkan kekuatan teman sebaya dan media sosial yang setiap hari menjadi bagian dari aktivitas remaja.
Atas dasar tersebut, dosen Jurusan Keperawatab Poltekkes Kemenkes Ternate melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Penguatan Agen Perubahan Remaja: Peer Educator dan Media Sosial sebagai Strategi Transformasi Kesehatan Reproduksi di Sekolah SMP Al-Khairaat Kota Ternate."
Kegiatan berlangsung pada 24 Juli 2026 di Multifungsi Room Poltekkes Kemenkes Ternate dengan melibatkan 50 siswa dan siswi SMP Al-Khairaat Kota Ternate yang didampingi guru wali kelas. Sejumlah mahasiswa Poltekkes Kemenkes Ternate juga terlibat aktif sebagai fasilitator selama kegiatan berlangsung. Sebelum kegiatan dimulai, didahului dengan pre test untuk mengetahu sejauh mana pengetahuan siswa.
Ketua tim pengabdian, Dr. Muhlisa, SKM., M.PsiT., mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam pendidikan kesehatan reproduksi saat ini bukan lagi terbatasnya informasi, melainkan bagaimana memastikan remaja memperoleh informasi yang benar di tengah derasnya arus konten digital.
"Remaja saat ini tumbuh bersama media sosial. Mereka menerima informasi dalam jumlah yang sangat besar setiap hari. Persoalannya bukan sedikit atau banyaknya informasi, tetapi bagaimana mereka mampu memilah informasi yang benar. Karena itu, kami memadukan pendekatan peer educator dengan media sosial agar pesan kesehatan reproduksi dapat diterima dengan lebih mudah dan berkelanjutan," ujar Dr. Muhlisa.
Menurutnya, teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perilaku remaja. Ketika seorang siswa memiliki pengetahuan yang baik, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian untuk berbagi pengalaman positif, ia dapat menjadi contoh sekaligus sumber informasi yang dipercaya oleh teman-temannya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya menerima materi mengenai kesehatan reproduksi, tetapi juga diajak membangun konsep diri yang positif, meningkatkan rasa percaya diri, menyusun rencana masa depan, memahami perubahan pada masa pubertas, menjaga kebersihan organ reproduksi, mengenali hubungan yang sehat, hingga meningkatkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Edukasi juga menekankan pentingnya menghormati diri sendiri, berani mengatakan tidak terhadap tekanan negatif, serta menggunakan media sosial secara bijaksana sebagai sumber informasi yang sehat.
Kegiatan dikemas secara interaktif melalui diskusi, tanya jawab, sesi curhat, dan pendampingan siswa. Suasana belajar yang santai membuat para peserta aktif menyampaikan pertanyaan mengenai perubahan yang mereka alami selama masa remaja, termasuk berbagai informasi yang sering mereka temui di media sosial.
Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan turut mendampingi peserta dalam setiap sesi diskusi. Kehadiran mahasiswa memberikan suasana yang lebih akrab sehingga komunikasi berlangsung dua arah dan peserta lebih leluasa mengemukakan pendapat.
Guru wali kelas SMP Al Khairat Kota Ternate mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pendidikan kesehatan reproduksi merupakan kebutuhan yang harus diberikan sejak dini melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter remaja saat ini.
"Kami melihat siswa sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi dan berani bertanya. Pendekatan yang digunakan sangat dekat dengan kehidupan mereka sehingga materi lebih mudah dipahami. Kami berharap program seperti ini dapat terus dilakukan sebagai bagian dari pembinaan karakter dan kesehatan peserta didik," ungkap guru wali kelas yang mendampingi kegiatan.
Melalui pembentukan peer educator, para siswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah. Mereka tidak hanya memahami kesehatan reproduksi untuk diri sendiri, tetapi juga dapat mengajak teman sebaya menerapkan perilaku hidup sehat, saling mengingatkan, dan bersama-sama menangkal informasi yang keliru mengenai kesehatan reproduksi.
Bagi Poltekkes Kemenkes Ternate, kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, sekolah, dan peserta didik, ilmu pengetahuan diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang remaja.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, transformasi kesehatan reproduksi tidak lagi hanya bergantung pada buku pelajaran atau ruang kelas. Ketika teman sebaya menjadi penggerak dan media sosial dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang positif, remaja memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, kritis, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (pn/kun)