Catatan
Lapangan Kecil, Mimpi Besar Maluku Utara
Oleh: Muliadi Tutupoho
(Kadis Kearsipan dan Petpustakaan Provinsi Malut)
Piala Dunia selalu lebih besar daripada sepak bola itu sendiri. Ia adalah panggung tempat manusia merayakan harapan, kebanggaan, bahkan identitas.
Di setiap edisinya, stadion-stadion dipenuhi warna-warni bendera, sementara di berbagai penjuru dunia, jutaan orang mengenakan jersey negara yang bahkan tidak pernah mereka tinggali.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 13 Juli 2026
Indonesia tidak pernah absen dari euforia itu. Pendukung Argentina, Brasil, Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, Portugal, Spanyol, hingga Maroko memenuhi ruang-ruang publik. Jalanan berubah menjadi arena konvoi, warung kopi dan pangkalan ojek menjadi ruang debat, serta televisi menjadi pusat perhatian keluarga.
Maluku Utara pun larut dalam gelombang yang sama. Namun sesungguhnya, bagi masyarakat kepulauan ini, sepak bola tidak dimulai ketika wasit meniup peluit di panggung Piala Dunia.
Sepak bola telah hidup jauh sebelumnya di lapangan desa yang berdebu dan berlubang, halaman sekolah, pesisir pantai, dan di tanah kosong yang setiap sore dipenuhi suara anak-anak mengejar bola hingga matahari terbenam.
Di situlah sepak bola menemukan makna yang paling sederhana sekaligus paling jujur yakni tentang mimpi.
Hampir setiap desa di Maluku Utara memiliki lapangan sepak bola, meski dengan fasilitas yang berbeda-beda dan seadanya. Anak-anak bermain tanpa mempersoalkan sepatu bermerek atau rumput yang sempurna, malah ada yang tak mengenakan sepatu.
Mereka hanya membutuhkan bola dan ruang untuk berlari. Dari lapangan-lapangan sederhana itulah lahir semangat kompetisi, solidaritas, dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.
Mungkin karena itulah sepak bola kerap disebut sebagai "agama baru" masyarakat modern. Ungkapan itu tentu bersifat metaforis, tetapi cukup menjelaskan bagaimana olahraga ini mampu menyatukan emosi manusia melampaui batas suku, agama, bahasa, maupun negara.
Baca Halaman Selanjutnya..