Maluku Utara Sudah Maju, Bagaimana dangan Loloda Utara
Oleh: Shamu A. Tjukai
(Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, FIB Unkhair)
Di atas kertas, Maluku Utara sedang mengalami masa kejayaan. Ekonominya tumbuh 34 persen secara tahunan pada 2025, angka tertinggi di seluruh Indonesia, ditopang derasnya hilirisasi nikel yang menggerakkan industri pengolahan di Halmahera Tengah dan sekitarnya.
Investasi mengalir, ekspor naik, dan provinsi ini kerap disebut sebagai representasi sukses transformasi ekonomi daerah kepulauan. Namun angka setinggi itu terasa asing bagi warga Loloda Utara, yang setiap hari masih bergulat dengan jalan berlumpur dan jembatan yang belum juga berdiri.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 8 Juli 2026
Gubernur Maluku Utara sendiri mengakui ada yang timpang dari capaian ini. Pertumbuhan tertinggi nasional itu tidak berbanding lurus dengan pemerataan pembangunan, dan akar masalahnya adalah konektivitas yang masih sangat terbatas.
Sekitar 60 persen penduduk provinsi ini bekerja sebagai petani dan 20 persen sebagai nelayan , tetapi hasil panen dan tangkapan mereka sulit sampai ke pasar karena jalan dan jembatan penghubung belum memadai.
Pertumbuhan ekonomi boleh melesat, tapi manfaatnya berhenti sebelum sampai ke desa-desa terpencil seperti di Loloda Utara.
Realitas di lapangan memperlihatkan mengapa kesenjangan ini begitu nyata. Ruas jalan Ngidiho–Lapi sepanjang tujuh kilometer baru diusulkan ke pemerintah pusat dan masih berada di tahap pemilihan penyedia jasa.
Ruas Lapi–Darume sepanjang delapan kilometer memang sudah dianggarkan lewat APBD 2026, namun total peningkatan jalan yang bisa direalisasikan tahun ini hanya sekitar 15 kilometer dari kebutuhan yang jauh lebih panjang.
Empat titik jembatan dengan bentang 15 hingga 50 meter bahkan belum masuk perencanaan anggaran daerah sama sekali.
Baca Halaman Selanjutnya..