1. Beranda
  2. Opini

Defisit Atensi: Ancaman Nyata di Balik Layar Gadget Si Kecil

Oleh ,

Oleh: Bairia Kemhay
(Mahasiswi Magister Psikologi Perkembangan & Pendidikan Universitas Katolik Soegijapranata (SCU), Semarang)

Pernahkah Ayah dan Bunda mengamati si kecil baru duduk belajar sebentar saja sudah mulai merasa bosan? Rasanya baru saja membuka buku, tapi matanya sudah mulai memandang sekeliling mencari ponsel atau merengek minta dibukakan YouTube.

Hal ini ini sering dikeluhkan orang tua maupun guru mengenai anak yang sulit “anteng” mengerjakan satu tugas. Akhirnya kita mulai bertanya-tanya, apakah generasi anak kita saat ini memang memiliki kecenderungan kemampuan fokus lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya?

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 7 Juli 2026

Dalam upaya untuk menjawab keresahan tersebut tentu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Namun, dari perspektif psikologi kognitif, ada beberapa penjelasan yang bisa kita temukan mengapa kemampuan fokus (atensi) anak saat ini menjadi tantangan. Salah satunya adalah tingkat penggunaan gadget yang intens dalam keseharian mereka sejak usia dini.

Ada satu istilah dalam psikologi kognitif yang disebut atensi atau fokus perhatian. Mari kita membayangkan atensi seperti pintu utama bagi otak anak untuk belajar. Jika pintu tersebut goyah, informasi akan sulit masuk dan diproses di otak anak.

Tentu anak yang sulit mempertahankan fokusnya akan kesulitan menangkap pelajaran di sekolah, sulit mengingat informasi, hingga sulit mengendalikan emosinya sendiri.

Salah satu teori yang ada dalam psikologi kognitif yaitu Attention Capacity Theory atau Teori Kapasitas Atensi yang dirumuskan oleh Daniel Kahneman (2011). Inti dari teori ini adalah memngingatkan kita bahwa fokus perhatian (atensi) manusia bukanlah sumur tanpa dasar, melainkan sumber daya yang sangat terbatas kapasitasnya.

Seperti halnya sebuah baterai, kemampuan otak untuk fokus akan sangat cepat terkuras habis ketika terpapar banyak rangsangan dari lingkungan dan media sosial secara bersamaan.

Ketika kita melihat benang merah dari teori Kahneman tersebut terhadap pola hidup anak-anak saat ini, maka akan terlihat paradoks digital yang cukup mencemaskan. Aplikasi, video pendek, hingga permainan game online telah dirancang dengan sengaja untuk mencuri fokus perhatian anak.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga