1. Beranda
  2. Opini

Alarm 2 April: Refleksi Hari Kesiapsiagaan Bencana untuk Maluku Utara

Oleh ,

Oleh: Basri Kamaruddin
(Koordinator Tim Observasi BMKG Stasiun Geofisika Ternate)

Belum genap sebulan wilayah Provinsi Maluku Utara, khusunya Kota Ternate diguncang gempa dahsyat dengan kekuatan magnitudo M7.6, tepatnya tanggal 2 April 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan mengeluarkan peringatan dini tsunami karena kejadian tersebut.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 28 April 2026

Gelombang tsunami terkonfirmasi pada alat perekam perubahan muka air laut dengan tinggi maksimal 70cm di Minahasa, Sulawesi Utara, dan 30 cm di Halmahera Barat, Maluku Utara.

Berdasarkan rilis BMKG, pusat gempa berada di Laut Maluku, laut yang memisahkan Halmahera dan Sulawesi. Titik pusat gempa ada diantara 2 pulau kecil, Mayau Dan Tifure, yang secara administrasi masuk wilayah kecamatan Batang Dua, Kota Ternate.

Dampak kerusakan paling parah terdapat di Pulau Mayau, lebih dari 200 rumah rusak dan memaksa hampir 2000 warga mengungsi.

Secara historis, Provinsi Maluku Utara adalah laboratorium alam yang aktif. Wilayah ini tepat berada pada pertemuan 3 lempeng tektonik besar dunia yang kompleks berimbas pada munculnya patahan – patahan sekunder yang aktif, terutama di Laut Maluku.

Hal ini menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu zona paling aktif gempabumi dan rawan tsunami di Indonesia. Catatan BMKG menunjukkan dalam satu dekade terakhir, lebih dari 14ribu kejadian gempabumi terjadi di wilayah kita dimana 399 kali dirasakan oleh masyarakat.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga