(Harita Group dan Perayaan Earth Hour di Benteng Orange)
Senjakala Bumi
Oleh: Eid Al-Fatir
(Kader HMI Komisariat Hukum Unkhair)
“Bumi adalah tempat manusia berpijak. Oleh karena itu, menjaga bumi adalah menjaga eksistensial manusia itu sendiri”.
Empat miliar tahun yang lalu pergulatan pemikiran tentang bumi telah digagas dan di pecahkan oleh para ahli. Ahli seperti Galileo Galilei, menyatakan bahwa bumi adalah planet keempat dari planet lainnya seperti matahari, berbentuk bulat, dan dihuni oleh manusia serta mahluk hidup lainnya.
Bumi adalah pusat tatasurya alam semesta (Geosentrisme) kata Aristoteles di Yunani sebelum masehi. Hari ini, 25 April 2026 Bumi (Earts Hour) diperingati sebagai simbol kesadaran global terhadap krisis lingkungan.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 27 April 2026
Dulu menjadi discourse kini menjadi simbol perayaan semata. Selama satu jam bahkan lebih, lampu dipadamkan sebagai ajakan reflektif bahwa bumi sedang berada dalam ancaman serius.
Ia yang awalnya memberi kehidupan sekarang berubah menjadi kematian. Ia diakibatkan oleh perubahan iklim, pencemaran lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, dan rusaknya ekosistem bumi akibat ulah manusia.
Gerakan ini lahir bukan sekedar untuk mematikan lampu, tetapi menyalakan kesadaran. Ia adalah seruan moral agar manusia modern menghentikan kerakusan terhadap alam.
Ironisnya, makna itu menjadi problematis ketika perayaan Earth Hour justru dijadikan panggung pencitraan oleh korporasi besar yang aktivitas utamanya adalah eksploitasi sumber daya alam.
Baca Halaman Selanjutnya..